Virus corona telah berhasil membuat cara belajar seluruh anak di Indonesia berubah. Dari tadinya, mereka asyik dan rajin masuk sekolah dan selalu berusaha sebelum jam 07.00 sudah sampai sekolah dan sore harinya mereka kembali kerumah, menjadi 100% belajar di rumah. Hal ini terjadi karena kasus virus corona yang sedang mewabah di negeri Republik Indonesia tercinta ini.
Pembelajaran daring merupakan pengalaman baru bagi hampir sebagian besar warga sekolah.  Biasanya mereka melakukan pembelajaran langsung, bertemu di sekolah pada jam tertentu. Pada pembelajaran daring, waktu bertemunya tidak bareng. Bisa saja guru memberi tugas di pagi hari, tetapi sampai ke siswa siang atau bahkan malam hari.
Hal ini tentu saja membuat kesulitan bagi guru dan siswa untuk melakukan proses pembelajarannya. Belum lagi kebiasaan guru untuk memberi PR dalam bentuk soal latihan. Hal ini ternyata menimbulkan keajaiban tersendiri bagi orangtua dan siswa “wah…belum diterangkan sudah latihan”
Perubahan bola belajar inilah yang membuat guru dan siswa kembali belajar dari awal. Guru tentu saja harus belajar mengatur strategi belajar, supaya pembelajaran daring tidak menjadi musibah bagi orangtua dan siswa. Berikut kami sajikan 6 tips melakukan pembelajaran daring. Sehingga belajar menjadi asyik bagi siswa.

1. Bukan Pembelajaran Tatap Muka

Pembelajaran daring bukanlah pembelajaran langsung. Kalimat ini haruslah diingat betul oleh setiap guru yang bertugas melakukan pembelajaran daring. Seringnya dianggap sama dengan pembelajaran langsung, sehingga guru segera mengeluh ketika berkomunikasi tidak lancar. Biasanya guru segera mencari cara untuk tatap muka, baik melalui webex, zoom, vicon dan lainnya. Padahal apa yang disebut tadi hanya merupakan salah satu alat bantu proses belajar secara daring. Dan bukan merupakan media utamanya.
Apa yang dilakukan oleh guru supaya dapat membelajarkan siswa secara daring, maka kalua boleh saya nasehatkan, buang strategi pembelajaran langsung. Setelah itu pelajari baik strategi atau model pembelajaran daring. Pada akhirnya rancang pembelajaran daring dengan hati hati.
Saat merancang pembelajaran daring, yang selalu diperhatikan oleh guru adalah:

  • Merupakan proses penyampaian informasi satu satu, maksudnya guru-siswa berkomunikasi tidak disaat yang sama;
  • Siswa belajar mandiri;
  • Siswa belum mengerti secara tepat tentang materi pelajaran;
  • Pembelajaran daring mempunyai kelebihan utama sumber belajar yang tidak terbatas;
  • Siswa belajar, setiap detiknya adalah biaya (kata siswanya sii mending buat main game);
  • Gunakan strategi yang paling hemat biayanya;
  • Jangan berharap mendapat respon secepat bila proses pembelajaran langsung;
  • Ikuti prosedur pembelajaran dengan tepat

Gambar 1. Bapak guru yang melakukan pembelajaran tatap muka

2. Buat Tertarik Siswa

Sesuatu hal baru pasti menarik. Begitu pula dengan pembelajaran daring. Hal ini merupakan barang baru baik bagi guru mapun siswa. Bagi guru terasa sangat ringan, karena tidak harus berbicara seharian di depan kelas, tidak capek. Tapi bukankah cara mengajar yang membuat guru berbicara seharian merupakan cara mengajar yang salah bukan. Bagi guru yang sudah terbiasa membelajarkan siswa secara interaktif dan memberi kesempatan bagi siswanya untuk berinovasi pasti paham, bahwa yang namanya belajar itu tidak sederhana. Yang Namanya mengerti itu butuh waktu, dan datangnya tidak ujug ujug. Siswa membaca materi satu kali belum tentu bahwa siswa tersebut sudah belajar. Siswa sudah membaca…I ya. Tapi mengerti…belum.
Siswa supaya belajarnya menjadi bermakna tidak hanya dengan membaca sekali kemudian diberi latihan soal. Kalau guru membelajarkan siswa secara daring dengan strategi tersebut, sudah pasti gagal. Yang dikuatirkan siswanya menjadi apatis dengan pembelajaran daring.
Bagi siswa tentu saja senang. Mereka mendapat dukungan sekolah untuk menggunakan HP android ataupun laptop yang berinternet. Sudah menjadi sifat anak yang menjadi siswa kita untuk berselancar terhadap hal hal baru. Itulah sebabnya guru harus berhati hati dalam membelajarkan siswa secara daring. Jangan sampai kebahagiaan anak berubah menjadi monster yang menakutkan dan membuat mereka menjadi phobia terhadapa pembelajaran daring.
Langkah awal yang harus diperhitungkan oleh guru adalah membuat anak tertarik dengan pembelajaran daring. Jangan membuat anak merasa keberatan dengan tugas tugas yang diberikan oleh guru. Caranya, silakan menggunakan model pembelajaran daring yang memberi kesempatan siswa dalam mengeksplorasi rasa ingin tahunya.

Gambar 2. Siswa yang lagi jenuh dengan pembelajaran yang terjadi

3. Sampaikan Materi Secara Kreatif

Sebenarnya kata kunci sebuah pembelajaran daring adalah modul belajar. Guru sebaiknya menyiapkan modul belajar yang kreatif. Missal jangan terlalu banyak kalimat, ganti kalimat dengan menggunakan gambar atau video yang banyak terdapat di youtube. Dalam modul tersebut juga dapat dikemas sehingga siswa dapat melihat dari beberapa sumber belajar yang tersedia missal rumah belajar.
Modul dapat dikaitkan dengan link-link sumber belajar secara langsung. Apakah siswa kita mampu sampai ke link tersebut. Bismillah saja, selama ini saya berkeyakinan bahwa anak anak saya selalu lebih smart dalam menggunakan HP ataupun moda daring. Alhamdulillah anak anak ternyata bias mengikuti.

Gambar 3. Contoh konten pembelajaran yang bisa diperoleh dari google


Gambar 4. Contoh konten portal rumah belajar


Gambar 5. Contoh konten rumah belajar


Gambar 6. Contoh konten youtube yang memuat video pembelajaran


Gambaran akhirnya adalah siswa belajar dengan model pembelajaran daring, serasa belajar di ruang perpustakaan. siswa belajar nyaman dan tidak kuatir kekurangan sumber belajar. Semua sudah tersedia.

Gambar 7. Siswa belajar secara berkelompok di ruang perpustakaan

4. Ukur beban kerja siswa belajar di rumah

Dari paparan di atas kita melihat bahwa pemberian tugas kepada siswa perlu disediakan waktu yang cukup. Untuk itu pemberian  tugas hendaknya proporsional. Artinya,  guru seyogyanya tidak memberikan tugas yang berlebihan alias terlalu membebani siswa. Perlu diingat bahwa dalam KTSP, ketentuan tugas yang  dibebankan kepada siswa maksimum hanya separuh dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
Di atas juga disampaikan bahwa dalam memberikan tugas  kepada siswa seyogyanya disesuaikan dengan kemampuan siswa  Oleh karena itu tantangan beban tugas kepada siswa hendaknya diberikan secara moderat. Artinya, dalam  memberikan  tugas kepada siswa diusahakan tidak terlalu sulit atau justru terlalu mudah untuk dikerjakan siswa.
Beberapa kali pengamatan penerapan model pembelajaran daring menunjukkan ke konsisten an sebagai berikut:

  1. Siswa mempunyai kemampuan maksimal belajar 2 sampai dengan 3 jam per hari;
  2. Siswa mampu belajar maksimal 2 mata pelajaran per hari;
  3. Siswa mampu bermain game sampai 3 jam per hari;
  4. Siswa mampu mengeksplorasi sumber belajar secara maksimal (dalam hal ini cukup dituliskan minimal 3 alamat link selain yang sudah diberikan guru).
  5. Tentu saja penerapan pembelajaran daring dapat meningkatkan keterampilan literasi siswa

Itulah sebabnya dalam memberikan tugas harus diatur dengan baik. Sebagai gambaran apa saja yang harus dipersiapkan oleh sekolah supaya pembelajaran dapat berjalan dengan asyik bagi siswa

  1. Jadwal pemberian tugas (setiap hari belajar);
  2. Jadwal pengumpulan tugas (setiap hari);
  3. Mata pelajaran yang akan didaringkan (dalam hal ini tidak perlu semua mata pelajaran harus didaringkan);
  4. Modul yang kreatif;
  5. Tugas yang menarik (upayakan tugas untuk berselancar atau bereksplorasi, dan hindari tugas yang mengarah pada penyelesaian soal semacam latihan ulangan…siswa pasti bosan)

Gambar 8. Orang yang lagi pusing mengatur stratgei belajar karena tugas menumpuk

5. Koordinasikan Jumlah Materi Belajar Dengan Wali Kelas

 Mengkoordinasikan tugas dengan wali kelas itu perlu. Bahkan dalam hal ini cukup wali kelas yang selalu berkoordinasi dengan wali murid dan atau siswa terkait dengan tugas tugas yang diberikan. Sementara itu guru mata pelajaran cukup memberikan tugas ke siswa melalui wali kelas.
Salah satu tugas awal wali kelas adalah mengatur mata pelajaran apa saja yang harus memberikan tugas, dan dijadwalkan kapan tugas dikumpulkan. Sementara itu pengumpulan tugas boleh dari siswa langsung ke guru mata pelajaran. Karena mungkin saja ada materi yang perlu dikonsultasikan ke guru mata pelajaran.

Gambar 9. Contoh alur pembelajaran daring


Yang harus diperhatikan adalah, pembelajaran daring biasanya melibatkan orangtua siswa. Hal ini bermakan antara lain:

  1. Orangtua siswa teribat sebagai wakil guru di rumah
  2. Jangan terlalu menyibukkan orang tua, cob ajika ada tiga orang anak yang belajar daring, hal ini berarti orang tua harus memastikan 6 tugas yang harus dikumpulkan setiap hari.

6. Tugas Harus Memberi Semangat

Akhirnya, pembelajaran daring harusnya dapat memberi semangat bagi siswa siswa untuk belajar secara mandiri. Bukankah anak anak kita juga akan senang jika diberi kesempatan untuk buka buka internet.
Jadi, guru….. tolong kalau memberi tugas, maka berilah tugas yang dapat menggairahkan anak untuk belajar. Misal penugasan untuk meng eksplorasi materi melalui link-link tertentu. Tapi tentu saja mereka juga boleh melihat link lain yang seirama dengan link yang kita tugaskan

Gambar 10. Siswa lagi sibuk mencermati tugasnya secara daring dari rumah


So, bapak/ibu guru, yang pasti jangan terlalu berlebihan saat Anda sedang membelajarkan siswanya secara daring. Sebab semangat Anda yang terlalu berlebihan dapat mematahkan semangat belajar siswa kita dan juga beban bagi orangtuanya juga.
Daftar Rujukan:
Yusuf Bil Faqih.2015.Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring. Publisher: Deepublish Project: MOOC Development
Maolidah, I.S. 2017. Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Flipped Classroom Pada Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Edutcehnologia, Tahun 3, Vol 3 No. 2,
Maswar, M. (2019). Strategi Pembelajaran Matematika Menyenangkan Siswa (MMS) Berbasis Metode Permainan Mathemagic, Teka-Teki dan Cerita Matematis. Alifmatika: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Matematika, 1(1), 28–43.
Trinova. 2012. Hakikat Belajar dan Bermain Menyenangkan bagi Peserta Didik. Jurnal Al-Ta’lim, Jilid 1, Nomor 3 November 2012, hlm. 209-215.
Joyce, Bruce.2009. Models Of Teaching. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Penulis: Lulud Prijambodo Ario Nugroho (PTP LPMP Jawa Tengah)
Pengelola Laman: Hesty Laily