Dalam Islam, peran seorang wanita yang telah menikah terbagi menjadi tiga, yaitu sebagai zaujah muthi’ah (istri yang taat dan penyayang), ummu madrasah (ibu pendidik), dan mar’ah shalihah (wanita yang shalihah).  Dari ketiga peran tersebut dapat dilihat bahwa dalam Islam wanita memiliki peran sebagai istri, ibu, dan sebagai individu. Sebagai seorang individu (mar’ah shalihah), wanita mempunyai kesempatan untuk aktualisasi diri dalam rangka fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Tentu saja dalam hal ini perannya sebagai individu tidak hanya dibatasi di lingkup domestik (dalam rumah) saja tetapi juga  lingkup publik (di luar rumah).
Perlu digarisbawahi bahwa peran publik bagi wanita yang sudah menikah tidak boleh sampai meninggalkan peran utamanya yaitu sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Di sinilah sesungguhnya awal dari timbulnya berbagai kegalauan yang menimpa sebagian ibu-ibu yang bekerja. Di satu sisi, ia ingin menjalankan peran dan fungsi domestiknya secara sempurna, namun di sisi lain ada kondisi-kondisi yang membuatnya harus keluar rumah, ikut serta membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Barangkali ada yang akan mengatakan “Toh bekerja tidak harus keluar rumah…dari rumah juga bisa kok mendapatkan penghasilan”. Oke lah, mungkin itu benar, tapi mari kita lihat faktanya tidak semua orang, dalam hal ini wanita, yang memiliki keterampilan untuk menghasilkan pendapatan dari rumah. Bersyukurlah jika Anda termasuk yang demikian. Beberapa wanita justru memiliki keterampilan untuk bisa mendapatkan penghasilan harus dengan keluar rumah. Entah itu sebagai guru, karyawan, pegawai, pedagang, perawat, dan sebagainya. Apakah lantas mereka yang memutuskan untuk keluar rumah membantu ekonomi keluarga ini lantas pantas dihakimi sebagai wanita yang tidak shalihah, karena terkadang harus meninggalkan anak-anak saat bekerja?
Konflik batin ibu yang bekerja sesungguhnya terjadi karena ia paham dengan posisi dan kedudukan idealnya. Hanyasaja, kondisi mengharuskannya untuk demikian. Maka seyogianya meme-meme atau pun tulisan-tulisan yang memojokkan para ibu yang bekerja sebagai ibu yang tidak menghargai anak-anak dan keluarganya tidak dibesar-besarkan. Kalau tujuannya untuk menyadarkan beberapa kelompok wanita yang memang lebih mengutamakan karir dan menomorduakan keluarga, maka berilah penjelasan yang lebih jelas. Sehingga tidak timbul rasa pilu di hati para wanita shalihah yang perkasa ini. Sungguh, di hati para wanita shalihah ini pasti ingin berdiam diri di rumah, berkhidmat pada keluarga, dan tercukupi semua kebutuhannya. Hanyasaja, mereka memang harus ikut membantu suaminya, maka pahamilah. Bukan karena tidak bersyukur dengan pemberian suami, tetapi justru membantu mengurangi bebannya, sehingga tidak berat dipikul sendiri oleh suami.
Untuk para ibu yang terpaksa bekerja, perlu sekali memahami kondisi keluarga dengan baik pula. Harus ada kompromi-kompromi cantik dengan suami dan anak-anak. Jangan sampai keputusan untuk bekerja justru merenggangkan hubungan dengan anak dan suami. Paling penting untuk didapat adalah ijin dari suami. Ini harga mati, tidak boleh dilangkahi. Saat suami mengijinkan, maka in sya Allah harmoni akan terjadi. Ia akan mengerti manakala suatu saat harus menggantikan tugas domestik istrinya. Toh, tidak setiap hari, hanya pada saat pekerjaan istri mengharuskan untuk sesekali meninggalkan tugas di dalam rumahnya.
Jadi, para ibu shalihah yang bekerja, syukurilah kondisi Anda saat ini. Bersyukurlah bahwa Anda bisa membantu meringankan beban suami. Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Rasa perih, sedih, dan pilu terjadi karena Anda membandingkan ekspektasi Anda dengan kondisi orang lain. Ikut bersyukur saja apabila ada sahabat atau kenalan seorang wanita yang tercukupi kebutuhannya dan tidak perlu bekerja. Setiap detik bisa menemani anak-anaknya, dan bisa ikut kegiatan-kegiatan sosial tanpa harus terikat jam kerja. Bisa ikut seminar, workshop, kajian, parenting, dan sebagainya. Ikutlah berbahagia, semoga suatu hari nanti Anda pun bisa demikian. Ikhlaslah dengan kondisi yang harus dijalani saat ini. Berhentilah merasa bersalah, dan jangan pedulikan lagi kritikan-kritikan pedas dari orang-orang yang tidak paham dan tidak mengerti kondisi Anda. Lakukanlah tugas domestik dan Publik Anda dengan penuh tanggung jawab. Jalankan sebaik yang bisa Anda lakukan. Setiap orang memiliki masalah dan kondisi masing-masing. Maka tak perlu melihat rumput tetangga, cukup rawat baik-baik rumput kita, kemudian merasa cukup dan bersyukur.
Tentu tidak mudah untuk menjalani dan menata hati seperti itu. Tetapi, yakinlah, saat kita tetap di jalur yang sesuai dengan tuntunanNya, maka kita akan selamat. Tetaplah bersyukur apa pun kondisinya. Bekerja bukan dosa, justru kalau Anda bisa membantu keuangan keluarga, maka setiap penghasilan yang Anda berikan kepada keluarga akan menjadi sedekah untuk Anda. Maka, tetaplah bahagia. Tetap utamakan keluarga. Aktifitas bekerja di luar rumah tidak lebih sebuah upaya membantu suami memperingan bebannya saja. Bukan untuk menjadi lebih tinggi atau lebih berkuasa dari pada suami. Bukan pula menjadi alasan untuk menghindar dari urusan anak-anak dan domestik lainnya. In sya Allah Anda akan bahagia saat mampu menempatkan urusan pada tempatnya yang tepat. Jangan lupa pula, selalu berterima kasih lah kepada suami dan anak-anak yang telah mengijinkan dan memberi support kepada Anda. Karena dukungan mereka lah maka Anda bisa menjalani peran ganda ini dengan baik. Dan tentu yang terpenting mohonlah selalu bimbinganNya sehingga Anda tidak keluar dari jalur yang semestinya. Selamat berbahagia ibu shalihah yang bekerja.
*) Siti Murwati, Psi. Psikolog dan Staf Bidang Pemetaan dan Supervisi Mutu Pendidikan LPMP Jawa Tengah
Gambar diambil dari www.salamdakwah.com