Karya : Rini Nofita Sari

 
Di hari yang nampak sendu doa-doaku seperti buih di lautan
Berlayar memerangi hawa dingin nan panas
Singgah di bibir pantai pasir putih nan hitam
Di ujung mata terdapat gambar kibaran merah putih
Tubuhku berdiri menatap Sang Pusaka
Indonesia
 
Bumi nusantaraku adalah  jiwaku
Sungguh,
Aliran sungai adalah aliran darahku
Udara segarnya adalah nafasku
Hutan, laut, gunung, sawah adalah organ dalamku
Bumiku adalah jiwaku
 
Namun,
Minggu malam menuju peringatanmu, ribuan air mata mengalir deras
Perjuangan kali ini berbeda, musuh yang tidak terlihat namun sangat mematikan
Ujung tombaknya diarahkan pada siapapun tanpa pandang bulu
Rasa takut yang amat sangat tentang keadaan saat ini
Kapan kita merdeka? kapan..
Sudah ribuan orang menjadi korban
Memeluk doa – doa, bumiku menangis
 
Kepada langit, berikan doa-doamu untuk bumi
Merdekakan kami
Bebaskan kami dari penjajah yang sangat kejam
Merdekakan kami
 
Tujuh puluh lima, bukan waktu yang singkat
Setiap tahun dinanti kelahirannya
Siapa?
Kelahiran anak emas untuk negara
Tujuh puluh lima, goresan tinta dan lembaran kertas yang tak terhingga
Lalu bagaimana hasilnya?
Tunjukkan jeritan semangat, tetesan keringat, dan pikiran hanya untuk bumi nusantara
Karya anak bangsa, Indonesia
 
Mari tunjukkan karya
Pandemi bukan alasan untuk tidak
Sebab hatimu kuat untuk melangkah
Berdiam bukan pilihan
Tetap berdiri dan berjalan adalah satu-satunya
 

juara 3 lomba cipta puisi kategori pelajar

dalam rangka memperingati HUT RI ke-75