Lulud Prijambodo Ario Nugroho

Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda

LPMP Jawa Tengah

Kelas online merupakan salah satu cara untuk membelajarkan siswa siswa di kelas pada saat kondisi kenormalan baru. Kondisi kenormalan baru merupakan suatu keadaan saat pasca Pandemi covid-19. Suatu kondisi yang telah mampu merubah budaya masyarakat, terutama mengenai standar hidup bermasyarakat yang lebih sehat.

Perubahan budaya masyarakat ini, tentu saja juga merubah budaya belajar siswa. beberapa waktu yang lalu, sekolah melaksanakan pembelajaran dari rumah masing-masing. Guru memberikan materi dari rumah, begitu juga siswa. Saat ini siswa sudah terbiasa melakukan kegiatan belajar secara mandiri, siswa juga sudah terbiasa mengeksplorasi beragam sumber belajar dan membuat beberapa solusi permasalahan atas materi yang disampaikan oleh guru secara online. Kemandirian siswa dalam belajar sudah terbangun dengan baik, sehingga proses pembelajaran saat “new Normal” guru sebaiknya jangan mematikan kembali kemandirian siswa.

 Salah satu langkah pemerintah adalah tetap mewajibkan adanya kelas online bagi penyelenggara pendidikan (sekolah).  Salah satu tujuan penyelenggaraan kelas online antara lain untuk menjaga budaya hidup sehat dengan tidak berkerumun, sedang salah satu manfaatnya adalah tetap memberdayakan keterampilan literasi digital dan meningkatkan kemandirian belajar siswa. Namun pembelajaran online yang diselenggarakan saat keadaan “new Normal” tentu berbeda dengan pembelajaran saat pandemic.

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan, adalah model pembelajaran hybrid. Model pembelajaran hybrid merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran “tatap muka” dengan pembelajaran “online” (pembelajaran sinkronus dan pembelajaran asinkronus). Selama ini, kita lebih mengenal dengan nama pembelajaran Blended.

 Bagaimanakah guru dapat menerapkan model pembelajaran hybrid ke dalam proses pembelajaran? Rupanya, untuk memberikan penjelasan tentang penerapan model pembelajaran hybrid merupakan salah satu tujuan artikel ini disusun. Mudah mudahan artikel ini dapat memberikan gambaran bagi guru, tentang cara menerapkan model pembelajaran hybrid untuk melakukan pembelajaran.

MODEL PEMBELAJARAN HYBRID

Model pembelajaran hybrid merupakan model pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar kombinasi. Pengalaman belajar yang diberikan adalah pengalaman belajar sinkronus dan pengalaman belajar asinkronus.

Gambar 1. Model Pembelajaran Hybrid.

Ya selama ini,  model pembelajaran hybrid lebih dikenal dengan nama model pembelajaran Blended. Menurut Garrison dan Vaughan (2008) prinsip dasar pembelajaran hybrid adalah menintergrasikan komunikasi sinkronus dengan komunikasi asinkronus secara optimal. Sehingga pembelajaran hybrid dapat memberikan pengalaman belajar yang unik bagi siswanya.

Konsep model pembelajaran hybrid sepintas terlihat jelas dan sederhana. Akan tetapi Ketika dikembangkan menjadi sebuah model pembelajaran yang kompleks. Implementasi model pembelajaran hybrid dapat merombak pola pembelajaran, jam pembelajaran tatap muka dan merubah total cara belajar siswa. jeas dengan model ini dituntut ke “aktif” an siswa. konsep model pembelajaran hybrid, kemudian  disusun menjadi sebuah desain pembelajaran tertentu.

Gambar 2. Konsep model Pembelajaran hybrid (gambar diambil dari penerapan Pembelajaran Hybrid di SMK tahun 2018)

Gambar 2 dengan sederhana dapat memberikan penjelasan tentang keterampilan dan pengamalan belajar apa saja yang berkembang pada saat proses pembelajaran terjadi. Tentu saja proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran hybrid.

Desain pembelajaran hybrid (blended) dengan melakukan pembelajaran sinkronus (tatap muka tradisional) dan saat proses pembelajaran mengintegrasikan pembelajaran online. Pembelajaran online tentu saja melibatkan penggunaan computer atau handphone cerdas lainnya.

Asumsi awal saat akan mendesain pembelajaran hybrid adalah:

  1. Mengintegrasikan pembelajaran sinkronus dan asinkronus
  2. Mengoptimalkan aktifitas siswa
  3. Merubah jam pelajaran sinkronus di kelas

Desain yang baik, diharapkan target pembelajaran dapat dicapai. Tetapi tentu saja target belajar yang berkualitas. Desain pembelajaran hybrid, dapat dikatakan baik apabila strategi pembelajarannya mengintegrasikan komunikasi verbal. Komunikasi dibangun dengan menggunakan beragam media,missal teks, audio, visual dan hypermedia. Keragaman media ini mampu menciptakan unifikasi mode komunikasi, langsung dan proporsional.

pengembangan deain pembelajaran juga dapat memperhatikan beberapa faktor. Faktor tersebut, menggunakan struktur  CoI (community of inquiry). Struktur CoI memiliki 3 faktor utama, yaitu: sosial, kognitif, dan pembelajaran.

Faktor kognitif merupakan faktor mendasar pada proses inkuiri. Inkuiri dalam kajian ini mencakup proses integrasi reflektif dan interaktif. faktor kognitif membantu memetakan pola berfikir pada suatu siklus belajar dari pengalaman, konseptualisasi,tindakan dan pengalaman lebih lanjut. Proses dikembangkan berdasarkan pada kegiatan reflektif.

Faktor sosial membantu siswa untuk berada dalam komunitas. Komunitas dimana siswa dapat merasa bebas untuk mengekspresikan diri secara terbuka dengan cara yang mereka suka. Mereka dapat mengembangkan hubungan interpersonal, sehingga komitmen dapat dibangun dan keinginan untuk mencapai tujuan akademis dapat dicapai.

Dalam konteks pendidikan, factor pembelajaran merupakan factor penting. Karena factor pembelajaran lah yang menyatukan factor social dan factor kognitif.Faktor pembelajaran lah yang memberikan pengalaman belajar yang bermakna.

Gambar 3. Desain Model Pembelajaran Hybrid

Tujuan dikembangkan model pembelajaran hybrid tentu saja untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Sebagaimana kita ketahui Bersama bahwa pola pembelajaran yang berkembang, baik itu pembelajaran sinkronus maupun pembelajaran asinkronus, pasti memiliki kekuatan dan kelemahan masing masing. Pembelajaran hybrid dikembangkan untuk memadukan kelebihan dari masing masing pola pembelajaran tersebut, sekaligus berusaha mengurangi atau menghilangkan kelemahan pola pembelajaran yang telah berkembang sebelumnya.

Penerapan model pembelajaran hybrid/blended dapat memberikan beberapa manfaat. Manfaat utamanya adalah menghemat waktu proses pembelajaran di kelas dan meningkatkan aktivitas belajar siswa. model pembelajaran hybrid mengkondisikan siswa untuk selalu belajar mandiri, karena siswa diajak mengeksplorasi sumber sumber belajar secara luas. Selain itu siswa juga akan selalu dilatih memberikan solusi solusi secara mandiri atas hasil eksplorasi sumber belajar yang telah diperoleh dan dipelajarinya.

Penerapan Model Pembelajaran Hybrid

Penerapan model pembelajaran hybrid menggunakan beberapa prosedur tertentu. Prosedur dikembangkan mengikuti alur desain yang telah dirancang.

Gambar 4. Alur Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Hybrid.

Gambar 4 menjelaskan prosedur pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Hybrid. Pada gambar terdapat 6 tahap pembelajaran. Ke enam tahap pembelajaran tersebut adalah: persiapan, pembelajaran sinkronus, belajar dengan metode “gotongroyong, belajar mandiri, belajar secara online (proses asinkronus learning) dan tahap ke enam kembali ke pembelajaran sinkronus.

Tahap satu. Persiapan pembelajaran. Pada tahap ini guru melakukan persiapan pembelajaran mulai dari Menyusun RPP menyiapkan strategi belajar, sumber belajar dan beberapa alamat sumber belajar dan rancangan kegiatan pada tiap tahap

Tahap dua. Pembelajaran sinkronus. Pembelajaran sinkornus bisa dilakukan dengan tatap muka langsung di kelas (bagi sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran di kelas), tetapi bisa juga dilaksanakan secara online dengan menggunakan zoom, webex, atau google meet. Materi pada tahap 2 biasanya penjelasan tentang materi singkat yang akan dipelajari, cara belajar yang akan dilakukan siswa pada tahap 3, 4 dan 5. Setelah itu tagihan yang harus sudah diselesaikan dan akan dibahas pada tahap 6.

Tahap tiga. Gotong royong. Gotong royong merupakan padanan kata dari kolaboratif. Sehingga pada tahap belajar gotong royong, siswa akan saling membagi pekerjaan dan saling tukar pengetahuan. Setelah siswa saling tukar pengetahuan, mereka akan belajar secara mandiri.

Tahap empat. Belajar mandiri. Proses belajar mandiri sebenarnya proses refleksi. Pada tahap ini siswa akan mengkaji Kembali materi secara mandiri. Proses reflektif biasanya akan muncul pada tahap ini. Mohon siswa didampingi dan diberi acuan kerja yang runtut, sehingga siswa akan dapat sejujur menuliskaan hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu: a) materi apa yang sudah dikuasai; b) materi apa yang tidak bisa dipelajari secara mandiri; dan c) materi apa saja yang memerlukan sumber belajar lebih banyak lagi. Dari ketiga ranah tersebut, siswa akan segera tahu pekerjaan apa yang akan dileksanakan pada proses pembelajaran tahap lima.

Tahap lima. Belajar asinkronus. Pada proses ini, siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi lebih luas terkait kebutuhan sumber belajar pendukung yang diharapkan dapat menutup kekurang pahaman siswa terhadap beberapa sub materi yang telah dipelajari pada tahap sebelumnya. Pada tahap inikegiatan siswa meliputi pencarian sumber belajar dan bahkan bisa melakukan diskusi atau wawancara secara online dengan beberapa narasumber yang diperlukan. Siswa juga dapat berdiskusi dengan guru yang memberi tugas, sehingga penguasaannya terhadap materi semakin optimal.

Tahap enam. Pembelajaran sinkronus. Pada tahap ini proses penguatan, simpulan dan refleksi klasikal atas hasil belajar dapat dilakukan. Guru diminta memberikan penghargaan kepada siswa yang telah dapat menyelesaikan belajarnya secara optimal.

Lalu Sekolah seperti apa yang dapat melakukan pembelajaran hybrid? Kalau melihat kajian di atas, sebenarnya menerapkan pembelajaran tersebut di kelas cukup mudah. Tetapi tentu saja harus dikoordinasi dan dikelola oleh sekolah, sehingga penyelenggaraanya tidak simpang siur. Walaupun demikian tentu saja ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh guru atau sekolah, misalnya:

  1. Sekolah membuat konten pembelajaran yang menarik. Terkait konten sebenarnya sudah disediakan oleh rumah belajar atau kalau menggunakan mesin pencari google, maka masalah konten dapat diatasi dengan baik
  2. Guru memiliki keterampilan literasi digital yang memadai
  3. Siswa memiliki ijin dari orang tua untuk menggunakan teknologi cerdas
  4. Literasi digital siswa yang memadai
  5. Terdapat jaringan internet yang reliabel
  6. Memiliki biaya untuk melakukan akses internet

Nah Guru. Sebagai penutup,perlu ditegaskan Kembali, bahwa pembelajaran hybrid mengharuskan panjenengan menentukan tujuan pembelajaran yang utama untuk dicapai dalam proses pembelajaran. Selain itu panjenengan juga harus dapat mengukur seberapa lama siswa belajar. sehingga pembelajaran hybrid dapat diterapkan dengan “enjoy”. Baik oleh guru maupun siswa. selamat mencoba…

Mari kita awali masa kenormalan baru dengan cara mengajar yang baru pula…sehingga generasi milenial semakin terampil dalam menggunakan keterampilan yang dimilikinya untuk bertahan hidup.

Rujukan

Caulfield, J. (2011). How to design and teach a hybrid course : achieving student-centered learning through blended classroom, online, and experiential activities. Stylus Pub.

Garrison, D. R., & Vaughan, N. D. (2008). Blended learning in higher education : framework, principles, and guidelines. Jossey-Bass.

Hwang, A. (2018) ‘Online and Hybrid Learning’, Journal of Management Education, 42(4), pp. 557–563. doi: 10.1177/1052562918777550
Rusman. (2012). Model-Model Pembelajaran. Depok: PT Rajagrafindo Persada
Anita, Sri. 2009. Teknologi Pembelajaran. Surakarta : UNS
O’Byrne, W.I. & Pytash, K.E. (2015). Hybrid and Blended Learning. Journal of Adolescent & Adult Literacy, 59(2), 137–140. doi: 10.1002/jaal.463