Abstract

Tri Mulyani, LPMP Jawa Tengah, 2020. Penerapan  E- Learning Portofolio Pada Diklat sebagai Upaya Peningkatan Profesionisme Guru Yang Mendunia. Makalah ini membahas  gagasan penulis tentang penerapan e-learning portofolio pada  pendidikan dan pelatihan di LPMP Jawa Tengah. Makalah ini  mendeskripsikan tentang  konsep dan  praktik  pengembangan  e-learning portofolio dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat memenuhi tuntutan masyarakat modern.Model ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme fasilitator  dan guru sehingga aparatur Negara tersebut dapat berkualitas dalam  pengetahuan, profesional dan keterampilan.

Kata kunci: E- learning  portofolio,  pengembangan fasilitator profesional.

 Latar Belakang

Saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, kemajuannya luar biasa terutama dalam bidang komputer baik desainernya maupun softwarenya. Hampir setiap bulan para desainer, pabrikan, ahli dalam bidang teknologi komputer terus menerus mengadakan makalah dan pengembangan teknologi.

Bangsa Indonesia yang semakin besar tidak luput dari kemajuan teknologi informasi ini, walaupun pada umumnya berada pada tataran konsumen/pemakain yang kalah jauh dari negara tetangga yang sudah masuk pada tataran desainer teknologi dan produsen komponen-komponen informasi teknologi informasi terutama bidang komputer.

Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin pesat, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis TI menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (contents) dan sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning khususnya di lembaga pendidikan (lembaga , training dan universitas).

Sebuah portofolio elektronik, juga dikenal sebagai e-portofolio atau portofolio digital, adalah kumpulan bukti elektronik dirakit dan dikelola oleh pengguna, biasanya di Web. Bukti elektronik tersebut dapat mencakup teks diinput, file elektronik, gambar, multimedia, entri blog, dan hyperlin,

 Penulis sudah pernah melaksanakan  diklat e-learning pada diklat guru muatan lokal bahasa Inggris SD di LPMP Jawa Tengah, namun kali ini penulis menggagas sebuah model diklat yang menggabungkan e- learning dan e-portofolio  sehingga makalah ini  membahas tentang  bagaimana penerapan e-learning portofolio pada diklat di LPMP Jawa Tengah.

Permasalahan

Bagaimana pelatihan yang bisa mengakomodir jarak yang luas dan jumlah yang banyak?

Kajian Teori

Pengertian E-learning

E-learning merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Definasi ‘e-learning’ atau electonic learning ini seringkali berubah-ubah selaras dengan kemajuan teknologi pada masa kini. Secara umumnya, ‘elearning’ adalah pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau internet) untuk menyampaikan isi materi yang diajarkan. Komputer, .internet, Intranet, satelit, tape audio/ video, TV interaktif dan CD ROM adalah sebagian media elektronik yang dimaksudkan di dalam kategori ini.

Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan: e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke pembelajar dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

Jaya Kumar C.Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet.

LearnFrame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan Komputer,maupun komputer standalone. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhan.

Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet .

 E-Portofolio

Sebuah portofolio elektronik, juga dikenal sebagai e-portofolio atau portofolio digital, adalah kumpulan bukti elektronik dirakit dan dikelola oleh pengguna, biasanya di Web. Bukti elektronik tersebut dapat mencakup teks diinput, file elektronik, gambar, multimedia, entri blog, dan hyperlink. E-portofolio keduanya demonstrasi kemampuan pengguna dan platform untuk mengekspresikan diri, dan, jika mereka sedang online, mereka dapat dipertahankan secara dinamis dari waktu ke waktu. Beberapa e-portofolio aplikasi memungkinkan berbagai tingkat akses penonton, sehingga portofolio yang sama dapat digunakan untuk berbagai tujuan.

Web berfungsi sebagai rumah yang ideal untuk portofolio elektronik untuk dibagikan dengan semua pengguna web. Dalam era digital di mana ada kekayaan pengetahuan di ujung jari seseorang,e-portofolio adalah salah satu cara yang lebih bahwa kita mampu untuk menyebarkan informasi. Kecepatan dan kemudahan di mana e-portofolio dapat dilihat hanyalah satu lagi contoh inovasi. Portofolio tradisional yang digunakan untuk sebagian besar ditulis. Portofolio elektronik terdiri dari tulisan, serta gambar, audio dan video. Oleh karena itu, lebih dari sekedar kata-kata yang sedang dikomunikasikan.

Isi dari portofolio dapat bervariasi menurut tujuannya, di mana akan digunakan, dan jenis‑jenis kegiatan penilaian yang digunakan dalam kelas. Johnson dan Johnson (2002: 103) menyebutkan butir‑butir yang relevan dimasukkan ke dalam portofolio, diantaranya (1) pekerjaan rumah, tugas-tugas di kelas, (2) tes (buatan fasilitator, curriculum supplied), (3) komposisi (essay, laporan, cerita), (4) presentasi (rekaman, observasi), (5) ivestigasi, penemuan, proyek, buku harian atau jurnal, (6) ceklis observasi (fasilitator, teman sekelas), (7) seni visual (melukis, pahatan, puisi), (8) refleksi diri dan ceklis, (9) hasil-hasil kelompok, (10) bukti kecakapan sosial, (11) bukti kebiasaan dan sikap kerja, (12) catatan anekdot, laporan naratif, (13) hasil-hasil tes baku, (14) foto, sketsa otobiografi, dan (15) kinerja.

Sedangkan Nur (2003: 10) dalam makalahnya memberikan daftar singkat item-item yang terdapat pada portofolio yaitu (1) tabel isi, (2) tulisan atau catatan yang diambil dari buku catatan pembelajar atau jurnal sains pembelajar, (3) ulangan harian, (4) asesmen kinerja, (5) pengorganisasi grafis, seperti peta konsep, outline, atau diagram alir, (7) model asli buatan pembelajar, (8) kegiatan-kegiatan pengembangan keterampilan proses, (9) lembar evaluasi-diri, (10) gambar, foto, karya seni, (10) soal-soal, (11) rekaman video, rekaman audio, (12) data eksperimen atau pengamatan, (13) karangan, (14) laporan tentang topik-topik sains, dan (15) makalah ilmiah.

Pembelajar  dapat memutuskan apa yang akan dimasukkan ke dalam portofolio mereka. E-portofolio, seperti portofolio tradisional, dapat memfasilitasi refleksi pembelajar pada pembelajaran mereka sendiri, yang mengarah ke kesadaran yang lebih strategi pembelajaran dan kebutuhan [1]. Hasil dari makalah komparatif, oleh M. van Wesel dan Prop, antara portofolio berbasis kertas dan portofolio elektronik dalam pengaturan yang sama, menyarankan penggunaan portofolio elektronik mengarah ke hasil belajar yang lebih baik.

Penelitian yang relevan

Lubis dan Harijati, (2016) menyatakan siswa dari daerah pedesaan Indonesia mengalami kesulitan untuk menikmati manfaat pendidikan dalam fungsi hambatan untuk mengakses Internet. Di sisi lain, hasilnya tetap dengan konservatisme tertentu dalam kaitannya dengan bahan ajar, karena 80% menganggap buku cetak sebagai bahan dasar untuk studi mereka. Namun, pada saat yang sama, jelas bahwa survei menerima untuk mengganti buku cetak untuk tablet, yang tidak dapat menunjukkan bahwa mereka, menyetujui perubahan ini, mereka mempertimbangkan aspek-aspek lain seperti produk itu sendiri dan penggunaannya.

Data menunjukkan keyakinan bahwa ada keterbukaan untuk berubah, karena materi online berkualitas mungkin memberikan pengaruh signifikan pada kepuasan yang dirasakan siswa dan meningkatkan hasil belajar mereka (Yueh, Liu & Liang, 2015: 124).

 

Penerapan E-learning Portofolio

                  Portofolio merupakan koleksi dari pekerjaan‑pekerjaan pembelajar sebagai bukti kemajuan pembelajar atau kelompok pembelajar, bukti prestasi, keterampilan, dan sikap pembelajar. Portofolio menampilkan pekerjaan pembelajar yang terbaik atau karya pembelajar yang paling berarti sebagai hasil kegiatannya sehingga mengilustrasikan kemajuan belajar pembelajar. Portofolio merupakan satu cara agar dalam diri pembelajar tumbuh kepercayaan diri bahwa dia mampu mengerjakan tugas. Dengan tumbuhnya kepercayaan diri pada diri pembelajar diharapkan dapat memotivasinya untuk mencari pengetahuan dan pemahaman sendiri serta berkreasi dan terbuka ide‑ide baru yang mereka lakukan dalam kegiatan pembelajarnya.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan fasilitator dalam mengembangkan e-portofolio pembelajaran, diantaranya:

  1. Penyampaian bahan ajar oleh fasilitator melalui e-learning
  2. Asesmen portofolio dilakukan sebagai pengajaran praktik dan mempunyai beberapa standar perencanaan yang kuat, yakni mendorong adanya interaksi antar lingkungan terkait seperti interaksi antar pembelajar, fasilitator dan masyarakat yang saling melengkapi serta menggambarkan belajar pembelajar secara mandalam, yang pada akhirnya dapat membantu pembelajar menjadi sadar untuk meningkatkan dirinya sebagai pembaca dan penulis yang baik.
  3. Fasilitator dapat menggunakan asesmen portofolio untuk mengukur sejauh mana kemampuan pembelajar dalam mengkonstruksi dan merefleksikan suatu pekerjaan/tugas/karya dengan mengoleksi atau mengumpulkan bahan yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dikonstruksi oleh pembelajar sehingga hasil kontruksi dapat dinilai dan dikomentari fasilitator.
  4. Pembelajar mengerjakan tugas‑tugas yang diberikan paling sedikit dua kali. Artinya jika dalam pengerjaan awalnya terdapat kesalahan, maka pembelajar diberi kesempatan untuk membuat revisi tugas tersebut. Seorang telah mengerjakan tugas yang sama beberapa kali akan mengetahui bahwa usaha yang dilakukannya cenderung menjadi lebih baik, sejalan dengan perbaikan yang dilakukannya. Hal ini akan dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada pembelajar bahwa dia mampu untuk menyelesaikan tugas‑tugas yang diberikan.
  5. Pengumpulan dan asesmen dilaksanakan berkelanjutan terhadap pekerjaan pembelajar sebagai fokus sentral kegiatan pembelajarannya.
  6. Portofolio digunakan secara terus menerus bukan hanya dilaksanakan pada akhir periode atau pada waktu‑waktu tertentu. Portofolio merupakan kegiatan yang mengikutsertakan pembelajar secara aktif dalam mengumpulkan pekerjaan (dokumen‑dokumen) mereka untuk menyakinkan supervisor, fasilitator dan orang tua pembelajar, bahwa sesuatu yang baik telah berlangsung di dalam kelas.
    Penyampaian bahan dan portofolio dilakukan secara

a. Synchronous e-learning: fasilitator dan peserta diklat pada tempat yang sama meskipun secara tempat berbeda. Disini diperlukan teleconference

b. A-synchronous e-learning: fasilitator dan peserta diklat pada kelas yang sama (virtual) meskipun pada tempat dan waktu yang berbeda. Model ini memerlukan bantuan system e-learning berupa learning management system. Sistem dan konten tersedia dan online 24 jam nonstop. Fasilitator dan peserta diklat dimanapun dan kapanpun tanpa  bertatap muka dan bersifat lebih  fleksibel

Kelebihan dan Kekurangan e-learning portofolio

                  Dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang konvensional/tradisional, e-learning portofolio memang memiliki beberapa kelebihan diantaranya : E-learning portofolio dapat mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis (dalam kasus tertentu). E-learning portofolio mempermudah interaksi antara pembelajar dengan bahan/materi, pembelajar dengan fasilitator  maupun sesama pembelajar. Pembelajar dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan belajar setiap saat dan berulangulang,dengan kondisi yang demikian itu pembelajar dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Kehadiran fasilitator tidak mutlak diperlukan fasilitator akan lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir, mengembangkan diri atau melakukan makalah guna meningkatkan wawasannya, mengontrol kegiatan belajar pembelajar.

Namun disamping itu e-learning juga mempunyai beberapa kelemahan yang cenderung kurang menguntungkan baik bagi fasilitator, diantaranya untuk lembaga  tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk membangun e-learning ini,pembelajar yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal. Bagi orang yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.

Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, fasilitator dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘e-learning portofolio’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan ‘memaksa’ pembelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.

E-learning portofolio bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).

Kesimpulan

Sistem pengajaran Portofolio bertujuan mengembangkan profesional fasilitator terutama untuk memberikan bimbingan bagi pembelajar  lain melalui kerja sama rekan dan untuk meningkatkan kemitraan, saling diskusi dan berbagi. Model ini  dilakukan  melalui proses terus menerus “perencanaan, pembelajaran, evaluasi, refleksi “, fasilitator dapat secara sistematis merenungkan tujuan pendidikan, merancang kegiatan mengajar, melaksanakan pengajaran yang efektif, mengamati proses mengajar, mengevaluasi baik proses pengajaran dan hasil belajar pembelajar, melalui refleksi. Ajaran pengembangan komputer up-to-date dilengkapi fitur-fitur utama sebagai berikut:

  1. Mampu mendeteksi model respon pembelajar individu selama proses belajar dan karena itu menyediakan sesuai proses yang ditentukan mengajar.
  2. Mampu merekam isi pengajaran, jumlah mengajar, waktu belajar, hasil dan kinerja untuk seluruh pembelajaran berlangsung.

Fungsi ini telah menciptakan dampak yang mendalam pada pengajaran tradisional.

REFERENSI

Akbar Pitopang, Efektifkah Penerapan Pembelajaran Berbasis E-Learning?, Kompasiana 2012

Anta. (2003). Definition Of Key Terms Used In E-Learning (Version 1.00). Retrieved 7 December, 2012, From Http://Www.Flexiblelearning.Net.Au/Guides/Keyterms.Pdf

Chin-Wen Liao (2011), Application Of E-Portfolio System To Enhance Teacher Professional Development, Educational Research And Reviews Vol. 6(3), Pp. 251-258

Gendri Hendrastomo (2008), Dilema Dan Tantangan Pembelajaran E-Learning, Majalah Ilmiah Pembelajaran, Mei 2008

Herman Dwi Surjono, Pengantar E-Learning Dan Penyiapan Materi Pembelajaran, Http://Herman.Elearning-Jogja.

Orgjames Eg, Sheryl Os (1996). The Teacher Portfolio: A Strategy For Professional Development And Evaluation. Lancaster, Pa: Technomic.

Rahardjo, D., Lubis, D. P., & Harijati, I. S. (2016). Internet access and usage in improving students’self-directed learning in Indonesia Open University. Turkish Online Journal of Distance Education, 17(2).

Wolf K, Dietz M (1998). Teaching Portfolio: Purposes And Possibilities. Teach. Educ. Q., 25(1): 9-23.

Yueh, H. P., LIU, Y., & Liang, C. (2015). Impact of Distance Teaching Implementation, Online Material Guidance, and Teaching Effectiveness on Learning Outcomes. International Journal of Engineering Education, 31(1), 121-126.