Oleh: Heri Dwiyanto *

Di masa pandemi Covid-19 ini proses pembelajaran di sekolah belum dapat berjalan normal seperti sebelum pandemi yaitu tatap muka di sekolah. Hal ini disebabkan karena aktivitas kehidupan sosial masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Menjaga jarak (physical distancing), mencuci tangan, memakai masker, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas harus dilakukan oleh seluruh warga masyarakat.

Aktivitas pendidikan khususnya proses pembelajaran juga harus mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Pembelajaran yang dilakukan tidak bisa lagi seperti biasanya tatap muka setiap hari. Begitu juga jumlah siswa perkelas tidak bisa sesuai standar yang ditetapkan. Untuk mengatasi hal ini diperlukan kebijakan di bidang pendidikan agar proses pembelajaran tetap dapat berjalan dengan baik, salah satunya adalah pembelajaran jarak jauh (PJJ).

PJJ merupakan proses pembelajaran yang diberikan kepada siswa dengan tidak berkumpul bersama di sekolah untuk menerima pelajaran secara langsung dari guru. Bahan materi dan tugas yang bersifat khusus dikirimkan atau disediakan untuk siswa yang selanjutnya mengerjakan tugas-tugas yang akan dievaluasi oleh guru. Dalam kenyataannya dapat dimungkinkan guru dan siswa tersebut terpisah tidak hanya secara geografis namun juga waktu (Crockett & Foster, 2005).

Pada masa pandemi ini seluruh sekolah di Indonesia telah melaksanakan PJJ baik secara dalam jaringan (daring) maupun di luar jaringan (luring). Namun masih ditemukan berbagai kendala dalam pelaksanaan PJJ ini sehingga belum menampakkan hasil seperti yang diharapkan. PJJ berjalan apa adanya sesuai dengan kondisi sekolah, guru, dan siswa sehingga memunculkan disparitas mutu PJJ antar sekolah.

Pembelajaran daring bisa memanfaatkan hypermedia sebagai e-learning ataupun media digital lainnya bahkan media sosial. Hypermedia yang dapat digunakan seperti Rumah Belajar, Google Classroom, Edmodo dan platform lainnya bisa digunakan dalam PJJ. Namun demikian media sosial yang sederhanapun bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran daring seperti WhatsApp (WA), Facebook, Telegram, dan media sosial lainnya. Media sosial ini akan menjai hypermedia manakala di dalamnya berisi link yang menghubungkan website, youtube, ataupun laman lainnya.

Pembelajaran secara luring bisa memanfaatkan televisi, radio, dan bahan tertulis (cetak) seperti modul. Pemerintah telah memfasilitasi pembelajaran luring ini dengan menayangkan program pendidikan melalui TVRI dalam skala nasional dan RRI untuk skala daerah. Disamping itu sekolah juga bisa memanfaatkan modul yang telah disusun sendiri sebagai bahan pelajaran selama luring berlangsung.

Pada masa pandemi pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan yang realistik sebagai proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penerapan pembelajaran berbasis proyek ini mendorong tumbuhnya kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, berpikir kritis dan analitis kepada siswa (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dengan metode Outdoor Study memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan awal mereka dengan pengetahuan baru yang diperolehnya dengan cara memberikan pengalaman langsung dengan objek atau lingkungan belajarnya. Pengetahuan yang mereka dapatkan tidak semata-mata merupakan pemberian guru, melainkan dengan cara bagaimana dia membentuk suatu ide, konsep, maupun pengetahuan (Danarti, 2014).

Dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek maka siswa akan memperoleh berbagai pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman antara lain:

  1. memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar baru dalam pembelajaran yang dilakukan

  2. meningkat kemampuan siswa dalam pemecahan berbagai masalah yang ditemui dari yang sederhana sampai yang kompleks

  3. meningkat keterampilannya dalam mengelola sumber, bahan, dan alat yang ada untuk menyelesaikan pekerjaan nyata sehari-hari

  4. meningkat kebersamaan (kolaborasi) dengan siswa lain dengan belajar kelompok yang akan menjadi modal dalam kehidupan sosial di dunia nyata

  5. memperoleh penilaian dari perencanaan, proses penyelesaian proyek, dan produk atau hasil proyek.

Pembelajaran berbasis proyek akan menyiapkan siswa dalam memasuki kehidupan dunia nyata berdasarkan pengalaman yang diperoleh pada saat penyelesaian suatu proyek.

Hasil evaluasi pembelajaran di masa pandemi telah menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaan PJJ. Tampak jelas bahwa masih cukup banyak kekurangan yang ada baik pada guru, siswa, orang tua, kepala sekolah, maupun pemerintah daerah. Kondisi ini menimbulkan cukup jauh pula gap antara kondisi ideal pelaksanaan PJJ dengan kenyataan yang ada sehingga perlu ditentukan solusi untuk mewujudkan kondisi ideal tersebut. Gap antara kondisi ideal dengan kondisi nyata dapat dilihat di bawah ini.

Kondisi Ideal

Kondisi Nyata

Solusi

Infrastruktur yang dibutuhkan untuk PJJ baik di sekolah maupun di rumah tersedia lengkap

Akses internet di sekolah terbatas dan belum semua siswa memiliki HP atau laptop

  • Mengoptimalkan pembelajaran luring dengan memanfaatkan televisi/radio

  • Mengutamakan pembelajaran dengan memberikan tugas/kegiatan siswa berupa proyek sehingga hanya menggunakan internet di saat tertentu

Guru mampu memanfaatkan teknologi pembelajaran dalam proses pembelajaran

Guru belum menggunakan berbagai sumber belajar. Masih banyak guru yang belum menguasai dan memanfaatkan teknologi pembelajaran.

  • Peningkatan kompetensi guru dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran baik secara mandiri maupun difasilitasi oleh sekolah

  • Guru memanfaatkan teknologi yang sudah familier dan dikuasai

Guru mampu menyusun perencanaan dan penyelenggaraan PJJ dengan baik

Guru masih mengalami kendala dalam menyusun desain pembelajaran PJJ dengan keterbatasan waktu pembelajaran. Belum berjalan komunikasi efektif dengan siswa maupun orang tua

  • Guru menyusun desain pembelajaran yang memuat integrasi antar mapel sehingga waktu belajar lebih efektif

  • Menjalin komunikassi efektif dengan siswa maupun orang tua dengan media sosial

Siswa siap mengikuti PJJ

Siswa belum siap mengikuti proses PJJ (belum mengerjakan tugas secara maksimal, kurangnya peran orang tua, dan keterbatasan sarpras di rumah)

Guru memberikan tugas kepada siswa mempertimbangkan beban siswa dengan tidak terlalu banyak tugas yang diberikan kepada siswa dalam seminggu

Kepala sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah daerah berperan aktif dalam PJJ

Peran kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa belum optimal dalam pembelajaran

  • Guru melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran

  • Kepala sekolah dan pemerintah daerah memfasilitasi guru dalam pelaksanaan PJJ

Bedasarkan tabel di atas maka pembelajaran yang dibutuhkan agar pelaksanaan PJJ dapat berjalan dengan baik dan maksimal antara lain:

  1. Mengutamakan pembelajaran dengan memberikan tugas/kegiatan siswa berupa proyek sehingga hanya menggunakan internet di saat tertentu

  2. Guru menyusun desain pembelajaran yang memuat integrasi antar mata pelajaran sehingga waktu belajar lebih efektif

  3. Guru memberikan tugas kepada siswa mempertimbangkan beban siswa dengan tidak terlalu banyak tugas yang diberikan kepada siswa dalam seminggu

  4. Guru memanfaatkan teknologi yang sudah familier dan dikuasai

  5. Guru melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran serta menjalin komunikassi efektif dengan siswa maupun orang tua dengan media sosial

Untuk memenuhi kriteria pembelajaran yang dibutuhkan dalam PJJ seperti disebutkan di atas dapat menerapkan model Project Based Learning (pembelajaran berbasis proyek). Pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek ini dapat menjawab apa yang dibutuhkan untuk keberhasilan PJJ, antara lain:

  1. Tugas atau kegiatan yang diberikan kepada siswa mempunyai rentang waktu tertentu sehingga siswa bisa lebih leluasa mengatur waktu dan tidak harus selalu online menggunakan internet

  2. Guru bisa berkolaborasi dengan guru mata pelajaran lainnya untuk mendesain satu tugas proyek yang diberikan kepada siswa sehingga dalam satu tugas terintegrasi beberapa mata pelajaran. Integrasi antar mata pelajaran ini bisa melatih siswa untuk berpikir komprehensip dan tentunya dapat memangkas waktu pembelajaran sehingga masalah keterbatasan waktu dapat diatasi.

  3. Guru tidak harus menggunakan aplikasi atau leaning manajemen system (LMS) tertentu tetapi bisa memanfaatkan platform yang lebih familier seperti media sosial WhatsApp (WA), Facebook, Telegram dan lainnya sesuai kesepakatan dengan siswa. Melalui media sosial ini guru dapat memasukkan link materi ataupun informasi lainnya.

  4. Guru juga bisa mendesain tugas proyek yang diberikan mendorong siswa untuk bekerjasama (berkolaborasi) dengan sesama siswa, keluarga, atau masyarakat sekitar.

Dalam pembelajaran berbasis proyek akan melatih siswa untuk berkolaborasi dalam penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis proyek menghindarkan siswa belajar secara tekstual bedasarkan materi yang ada dalam buku yang kadang membutuhkan waktu yang cukup lama.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dengan integrasi antar mata pelajaran memanfaatkan hypermedia dapat diterapkan dalam PJJ. Pembelajaran berbasis proyek ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang selama ini ditemukan dalam pelaksanan PJJ antara lain keterbatasan infrastruktur, keterbatasan kemampuan guru dalam penguasaan teknologi pembelajaran, keterbatasan waktu belajar, dan minimnya peran serta stakeholder (orang tua siswa dan pemerintah daerah).

DAFTAR PUSTAKA

Crockett, M., & Foster, J. (2005, Desember 20). ICA Section on Archival Education and Training. Dipetik Januari 20, 2021, dari ica-sae.org: http://www.ica-sae.org/trainer/indonesian/p11.htm

Danarti, R. (2014). Perbedaan Hasil Belajar IPS Model Project-Based Learning Berbasis Outdoor Study dengan Konvensional Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Humaniora Vol. 2 No. 2, 102-111.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Guru Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/Mts KelasVII Edisi Revisi. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

*) Penulis adalah Pengembang Teknologi Pembelajaran pada LPMP Jawa Tengah