M. Djoni Abdilah, S. Pd

 

Tahun ajaran 2019/2020 telah berakhir dengan menyisakan pembelajaran daring bagi dunia pendidikan. Solusi yang diterapkan ditengah masih mewabahnya pandemi Covid-19 ini. Orang tua sebagai wali murid mau tidak mau, suka atau tidak suka harus mengenal dan menggunakan metode daring tersebut lewat pemanfaatan teknologi terkini, yaitu gadget, laptop atau komputer.

Metode daring lewat pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi primadona ditengah pandemi ini. Pendidik atau guru juga harus mempersiapkan segala materi lewat jalan daring. Pembelajaran tatap muka atau luring di sekolah untuk sementara ditinggalkan dulu. Orang tua pun diminta ikut aktif dalam pendampingan belajar anak di rumah.

Sebelum adanya wabah corona yang telah menjadi pandemi ini orang tua tidak terlalu repot dan pusing dalam hal pendidikan anak-anaknya karena masih ada kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan adanya guru yang bisa bertemu langsung dengan anak untuk memberikan materi pelajaran. Akan tetapi ketika situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk adanya pembelajaran tatap muka di sekolah, maka alternatif agar pendidikan tetap ada dan berjalan maka dipilihlah pembelajaran daring. Yang mana pembelajaran tersebut membuat banyak orang tua yang kerepotan dan kewalahan.

Orang tua harus benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mulai dari persiapan lahir hingga batinnya. Ketika kemarin ketika diakhir semester dua tahun ajaran 2019/2020 hanya baru mengenal apa itu daring saja, yang dengan segala ‘pernak pernik’ yang membutuhkan banyak perhatian (waktu), alat (teknologi) dan materi (biaya internet), maka sekarang ini, itu semua harus benar-benar menjadi perhatian khusus bagi banyak orang tua agar pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru ke anak didik dapat disikapi oleh orang tua dengan arif dan bijaksana, sehingga orang tua tidak menjadi kaget, bingung dan panik lagi dikarenakan sudah mempersiapkan diri dengan baik dan sedikitnya sudah mengetahui gambaran tentang yang namanya pembelajaran daring.

Tahun ajaran baru biasanya identik dengan suasana baru. Mulai dari sekolah baru, teman baru, guru baru, seragam baru dan lingkungan yang baru. Anak-anak tentunya senang dengan semua itu. Pun demikian dengan orang tua yang senang dan bangga karena anaknya kini telah berseragam sekolah baru sesuai dengan jenjang pendidikannya. Akan tetapi di tahun ajaran baru 2020/2021 ini semuanya untuk sementara tidak ada dulu. Tahun ajaran baru ini hanya ada di rumah masing-masing, tanpa ke sekolah dulu.

Peran penting orang tua pada masa pandemi ini sangat diperlukan. Ada tiga peran penting orang tua yang harus dilaksanakan pada era Covid-19 ini sebagai pengganti guru di sekolah yang biasa mengajar memberi materi pembelajaran. Pertama, orang tua sebagai pendidik (guru) utama dan pertama. Menurut Zakiah Daradjat dalam buku Peranan Agama dalam Kesehatan Mental mengatakan bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga, yaitu dari kedua orang tuanya.

Biasanya orang tua (ayah atau ibu) hanya bertugas mencari nafkah saja dalam rangka pemenuhan kebutuhan primer saja, tetapi untuk hal pendidikan anak diserahkan kepada guru sekolah. Sejatinya tugas atau peran orang tua tidak hanya terbatas pada tanggung jawab dalam hal sandang, pangan dan papan saja, melainkan ada hal yang paling utama yaitu pendidikan anak.

Pendidikan menjadi hal yang sangat diperlukan bagi anak. Dengan pendidikan yang baik, benar dan tepat akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak. Apabila pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya sesuai dengan usia dan karakternya, serta ditambah sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, maka dapat dipastikan anak menjadi insan yang mempunyai perilaku yang baik dan terpuji. Begitu juga sebaliknya, apabila orang tua salah dalam hal pendidikan maka anakpun akan menjadi generasi yang tidak diinginkan, yaitu generasi yang mempunyai akhlak jelek dan tak terpuji.

Tidak hanya pendidikan tentang akhlak atau tingkah laku saja, orang tua juga harus memperhatikan pada aktifitas belajar anak yang dilakukan sehari-harinya sebagai seorang pelajar. Perhatian orang tua terhadap kegiatan belajar anak dapat berupa bimbingan, pengawasan, nasihat, motivasi (dorongan positif) dan penghargaan serta pemenuhan apa saja yang menjadi kebutuhan anak (peralatan sekolah) dalam hal belajar. Dalam hal ini peranan orang tua sangatlah penting dan besar dikarenakan orang tua adalah lingkungan yang terdekat dan terakrab dengan anak. Selain itu faktor kedekatan emosional dengan anak menjadi hal yang dibutuhkan oleh seorang anak dalam rangka mencapai prestasi belajar yang bagus, maksimal dan yang sesuai dengan harapan orang tua.

Kedua, orang tua sebagai teladan. Menurut Djaka, Cs dalam buku Rangkuman Ilmu Mendidik mengatakan, bahwa dalam pendidikan budi pekerti yang penting ialah kebiasaan dan perbuatan (prakteknya). Kebiasaan dan perbuatan orang tua pastinya dilihat dan didengar langsung oleh si anak, dan itu semua akan menjadi contoh bagi anak dalam kehidupan sehari- hari. Maka dari itu orang tua harus berhati-hati dalam berkata dan bertindak agar anak bisa dan terbiasa mencontoh atau meniru perkataan dan perbuatan yang baik dari orang tuanya. Karena orang tua adalah teladan pendidikan budi pekerti bagi anak-anaknya.

Ketiga, orang tua sebagai teman. Pada era milineal sekarang ini dengan istilah anak-anak jaman now banyak yang lebih memilih teknologi (gadget) sebagai teman dalam hidupnya. Sehari-hari berteman dan berinteraksi dengan gadget sampai lupa waktu. Gadget tidak bisa lepas dari tangan dan dipisahkan dari anak. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, yang dipegang gadget. Inilah tantangan berat bagi orang tua. Jaman perkembangan teknologi yang pesat, perkembangan pendidikan manusia juga banyak dipengaruhi oleh kemajuan-kemajuan teknologi itu sendiri.

Banyaknya penawaran-penawaran yang menarik, menggiurkan dan terbilang murah dari teknologi maju dan berkembang pesat seperti saat ini menuntut orang tua untuk selalu bisa dan dapat mendampingi dan mengawasi penggunaan teknologi (gadget) tersebut agar dalam penggunaannya oleh anak dapat terpantau dan terkontrol. Jadilah orang tua yang dianggap sebagai teman bagi anak bukan sebagai musuh.

Orang tua yang memahami persoalan-persoalan anaknya, enak diajak ngobrol dan juga dapat memberi solusi yang tepat yang dibutuhkan oleh anak. Orang tua menjadi pendengar yang setia dan baik. Ayah atau ibu selalu ada ketika anak sedang menghadapi suatu masalah dan membutuhkannya. Peranan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak sangat dibutuhkan agar penggunaan gadget benar-benar sesuai dengan fungsinya, yaitu sebagai alat untuk pembelajaran daring, bukan untuk hal-hal lain yang mungkin tidak pas atau tidak sesuai dengan usia anak dan dapat memberi dampak negatif bagi tumbuh kembang anak.

Dengan masih adanya pandemi ini dan dimulainya tahun ajaran baru ini, maka orang tua harus benar-benar siap dengan segala resiko dan konsekuensinya. Akan tetapi sebagai orang tua jangan hanya bisa mengeluh dan pasrah dengan keadaan yang ada saat ini. Yakinlah dengan berdoa, ikhtiar yang maksimal dalam mendidik anak insyaAllah semua akan menjadi mudah dan terlewati dengan baik. Orang tua harus mempersiapkan diri dari sekarang dengan ilmu-ilmu tentang pendidikan daring dan juga tentang mendidik budi pekerti anak.

Tentunya kita masih ingat dengan pesan dari Pak Nadiem ketika peringatan hari Pendidikan Nasional 2 Mei kemarin yang mengatakan bahwa untuk pertama kalinya orang tua menyadari betapa sulitnya tugas seorang guru untuk bisa mengajar anak secara efektif dan menimbulkan empati kepada guru. Selain itu menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut juga menambahkan bahwa untuk menjadikan pendidikan yang efektif memerlukan kolaborasi yang efektif pula dari tiga komponen, yaitu guru, siswa dan orang tua. Tanpa kolaborasi, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi.

Jadi agar pendidikan yang memakai daring pada tahun ajaran baru ini bisa berjalan efektif dan maksimal diperlukan kerja sama dan kerja keras, terutama adanya perhatian dan partisipasi dari orang tua kepada anak dan guru, sehingga kolaborasi yang efektif antara guru, siswa dan orang tua benar-benar terjadi dan menjadikan pendidikan di Indonesia selama pandemi ini bisa lancar dan berhasil.

Ditambah lagi momen peringatan HUT RI yang ke 75 tahun ini sudah seharusnya kita semua rakyat Indonesia berkarya (berbuat sesuatu) untuk bangsa kita yang tercinta ini. Apapun status, bidang, profesi serta pekerjaan kita, berkaryalah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Jangan hanya berpangku tangan saja tanpa berbuat ‘sesuatu’ yang berarti untuk kemajuan bangsa dan jangan hanya menyalahkan kebijakan-kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan bangsa ditengah pandemi seperti ini. Beri kritik dan saran yang membangun untuk pemerintah agar ada kontrol dan keseimbangan dalam membuat peraturan atau kebijakan sehingga yang dihasilkan tidak hanya memihak satu atau dua golongan saja, tetapi harus berpihak untuk kepentingan rakyat Indonesia. Wallahu A’lam bisshowab.

 

juara 1 lomba cipta artikel kategori tenaga kependidikan

dalam rangka memperingati HUT RI ke-75