OPTIMALISASI BELAJAR DARI RUMAH PADA MASA PANDEMI COVID 19 SISWA SEKOLAH DASAR

Oleh : Mujiyanto Paulus, widyaiswara LPMP Jawa Tengah
 

Pandemi covid 19 telah mengubah sendi-sendi kehidupan manusia. Berbagai kehidupan manusia terdampak oleh adanya virus tersebut. Tidak hanya di bidang kesehatan, akan tetapi  virus tersebut  telah memberikan dampak pada perekonomian, pemerintahan, kehidupan sosial kemasyarakatan, keagamaan, pendidikan, dan hampir semua bidang kehidupan yang lain.  Sungguh peristiwa ini telah mengubah  kehidupan manusia, yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Pada dunia pendidikan, dampak covid tersebut begitu terasa.  Menteri Pendidikan telah mengambil kebijakan tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan pada Masa Darurat Penyebaran Covid 19 (SE Mendikbud No 4/2020). Hal itu diambil dalam rangka mendukung kebijakan Presiden “ Social Distancing” maupun “Physical Dictancing” guna memutus penyebaran covid 19. Kebijakan tersebut seirama dengan kebijakan tentang Work From Home atau Bekerja dari Rumah bagi para pegawai atau karyawan. Keselamatan masyarakat merupakan hukum tertinggi.

Pada awalnya, masyarakat merasakan sesuatu yang aneh dan menganggap enteng himbauan Pemerintah tentang Belajar dari Rumah (BdR). Kenyataan membuktikan bahwa pada saat siswa harus belajar di rumah, justru pada saat yang bersamaan banyak siswa yang berada di luar rumah, bermain-main, berkelompok di halaman rumah, bahkan di jalan-jalan. Demikian juga, saat masyarakan dihimbau untuk di rumah saja, masih banyak yang berada di luar rumah, di jalan, atau bahkan beraktivitas seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.  Sungguh fenomena yang menyedihkan buat kita.

Mengapa banyak siswa yang bermain-main di luar rumah saat pelaksanaan BdR? Bagaimana pelaksanaan BdR yang seharusnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menarik untuk kita cermati. BdR adalah sesuatu yang baru, yang datangnya seperti tiba-tiba dan tidak terencana sebelumnya. Sebagian besar kita tidak siap sebelumnya, baik para siswa, guru, maupun orang tua. Sebelumnya hampir pasti belum ada pendidikan khusus tentang bagaimana Belajar dari Rumah tersebut harus dilaksanakan, siapa saja yang seharusnya terlibat dalam kegiatan tersebut, dan bagaimana metode yang tepat yang dapat diterapkan agar Belajar dari Rumah menjadi efektif.

Pada kesempatan ini penulis tidak akan mempersoalkan siapa yang salah dari situasi semacam itu. Akan tetapi, penulis berbagi pengalaman atau pandangan bagaimana sebaiknya Belajar dari Rumah itu dilakukan.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka mengefektifkan BdR tersebut, yaitu perencanaan pembelajaran, kompetensi guru, suasana belajar, peranan patrenting, fasilitas pendukung, penilaian hasil belajar, serta peranan kepala sekolah. Secara lebih terinci akan penulis bahas satu persatu.

 

  1. Perencanaan yang fleksibel

Perencanaan suatu kegiatan memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan suatu program kegiatan pada hakikatnya betgantung pada perencanaan tersebut. Salah satu ciri perencanaan yang baik adalah disesuaikan dengan kemampuan, situasi, kondisi  kegiatan yang akan dilaksanakan.  Perencanaan pembelajaran yang dilakukan  pada saat keadaan normal di sekolah tentu tidak dapat disamakan dengan perencanaan yang dilakukan pada saat pembelajaran dilaksanakan saat BdR masing-masing siswa. Guru tidak mungkin dapat menunggui secara langsung pada saat siswa belajar di rumah. Oleh sebab itu, guru perlu secara fleksibel akan memilih dan memilah substansi materi atau bahan ajar yang sangat memungkinkan untuk dapat diterapkan pada saat siswa Belajar dari Rumah. Sesuai dengan anjuran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, selama BdR siswa jangan dibebani tugas iuntuk menuyelesaikan target kurikulum. Untuk itu, rencana kegiatan yang perlu diberikan untuk siswa perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa. Selain itu, perlu dilakukan kerja sama yang harmonis di antara para guru di sekolah, agar tidak terjadi tumpang tindih antara pembelajaran dari guru yang satu dengan guru yang lain.  Di sinilah perlunya kreativitas dan kerja sama antarguru dalam merancang pembelajaran untuk siswanya.

 

  1. Kompetensi Guru yang memadai

Covid 19 secara tidak langsung telah mengubah paradigma tentang kompetensi guru. Guru dituntut mau tidak mau harus paham IT. Bukan saja untuk kepentinghan pribadi, sekadar berkomunikasi dengan orang lain, akan tetapi lebih dari  itu bagaimana guru mampu memanfaatkan IT dalam proses pembelajaran jarak jauh.  Hal ini tentu sangat mengagetkan kita semua. Kita telah memahami bahwa kompetensi para guru Sekolah Dasar, khususnya generasi yang menjelang usia pensiun, rata-rata kemampuan IT-nya belum memuaskan. Oleh sebab itu, pada awal kegiatan Belajar dari Rumah, kegiatannya terasa belum dimanfaatkan secara maksiamal.  Bahkan ada anggapan saat itu sebagai libur corona. Jadi, sekali lagi selain 4 kompetensi guru (paedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional) guru perlu dituntu untuk menguasai IT untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran jarak jauh (BDR). Dalam penerapan pembelajaran jarak jauh guru dapat memanfaatkan berbagai fitur aplikasi, di antaranya Chating Whats App Group, Google Classroom, Zoom (aplikasi video conference), Skype, Webex, Facebook Life, maupun yang lain. Tentunya dalam memilih jenis  aplikasi yang akan diterapkan perlu dipertimbangkan kemampuan para siswa maupun kondisi orang tua siswa pada umumnya.

 

  1. Suasana belajar yang menyenangkan

Belajar dari Rumah pada hakikatnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan belajar di sekolah. Saat di sekolah mereka sudah dibiasakan selalu tertib, berdisiplin, baik berkaitan denganh waktu maupun kelengkapan pakaian yang dikenakannya. Sedangkan saat siswa Belajar dari Rumah tentunya situasi dan kondisi masing-masing siswa sangat berbeda. Oleh sebab itu, jangan diharapkan saat mereka sedang Belajar dari Rumah, mereka diwajibkan untuk setertib seperti saat belajar di sekolah. Selain itu, saat siswa belajar di sekolah mereka akan bersama-sama dengan banyak teman. Mereka bisa dengan leluasa berkomunikasi dengan teman-temannya, dengan bapak dan ibu guru, penjaga, dan bahkan lebih dari itu. Saat siswa Belajar dari Rumah, kondisi seperti itu tidak akan bisa ditemui. Siswa akan berdiam di rumah dengan kesendiriannya. Paling-paling dengan kakaknya, orang tua, yang sama-sama berada di rumah karena melaksanakan kegiatan Bekerja dari Rumah.  Kondisi dan situasi seperti itu tentu mempunya dampak psikologis bagi siswa. Perasaan bosan, mudah lelah, malas, dan sejenisnya tentu akan mudah sekali siswa rasakan.  Oleh sebab itu, pada kondisi yang seperti itu, guru perlu mengupayakan agar siswa tetap merasa nyaman, senang, dan tidak bosan saat melaksanakan kegiatan Belajar dari Rumah.  Salah satu tindakan yang dapat dilakukan guru adalah mendesain aktivitas pembelajaran yang menarik dan bervariasi. Pada saat siswa Belajar dari Rumah, rasanya tidak pas apabila guru menjelaskan materi pembelajaran secara panjang lebar seperti saat pembelajaran di kelas. Demikian juga sebaliknya, guru tidak pas jika selalu memberikan tugas terus menerus. Seaolah-olah tugas siswa saat belajar adalah mengerjakan tugas, seperti PR di rumah. Jika hanya sehari atau dua hari barangkali tugas seperti itu tidak terlalu dirasakan beratnya. Akan tetapi, jika itu dilakukan terus-menerus tentu akan membuat kebosanan siswa yang luar biasa. Jadi, solusinya lakukan kegiatan Belajar dari Rumah yang bervariatif.  Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan siswa di antaranya tugas yang memberikan pengalaman belajar yang bermakna, difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, tugas pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan minat siswa, serta mempertimbangkan kesenjangan akses.

Selain itu, berikan kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan permainan sesuai dengan minat masing-masing siwa. Berikan kesempatan siswa untyuk main game yang ada di hp masing-masing, atau berikan kesempatan bagi siswa untuk aktivitas fisik misalnya loncat-loncat, jalan, atau kegiatan yang lain untuk menyelingi kegiatan Belajar dari Rumah.

 

  1. Memaksimalkan parenting

Pendidikan pada hakikatnya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masayarakat, dan orang tua. Selama ini pernyataan itu seperti slogan belaka yang dalam praktiknya belum dioptimalkan. Menurut pengamatan penulis, belum banyak orang tua yang memberikan bantuan yang cukup besar kepada anaknya khususnya dalam hal bantuan belajar siswa. Sebagian orang tua telah disibukkan dengan tugas mereka masing-masing. Mereka lebih menyerahkan nasib pendidikan anaknya kepada guru di sekolah. Saat sekarang ini nampaknya saat yang tepat untuk menyadarkan orang tua betapa penting bantuan orang tua bagi anaknya saat siswa melaksanakan kegiatan Belajar dari Rumah.  Orang tua perlu meluangkan waktu untuk menemani anaknya Belajar dari Rumah. Hal ini memang banyak tantangannya. Sebagian orang tua masih harus kerja di luar rumah untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu. Jika ada orang tua yang di rumah karena melaksanakan Bekerja dari Rumah, mereka telah disibukkan dengan kegiatan masing-masing.  Akan tetapi, orang tua yang bijaksana tentunya akan berupaya semaksimal mungkin dapat menemani anaknya saat anaknya Belajar dari Rumah.

Selain itu, guru harus lebih meningkatkan intensitasnya dalam berkomunikasi dengan orang tua siswa. Maksimalkan grup wa untuk memantau perkembangan belajar siswa di rumah. Jangan segan-segan guru menyapa para wali muridnya setiap waktu.  Tanyakan kendala yang terjadi. Berikan solusi yang bijaksana jika terjadi permadsalahan.

 

  1. Fasilitas yang mendukung

Dalam bahasa Jawa ada pepatah “Jer Basuki Mawa Beya”. Ungkapan tersebut sampai saat itu masih relevan di berbagai bidang kehidupan. Bahwa setiap kegiatan agar mendapatkan hasil yang maksimal, diperlukan biaya. Demikian juga saat sekarang ini. Pelaksanaan Belajar dari Rumah tidak akan dapat dilaksanakan jika tidak ada sarana komunikasi yang beriupa hp atau sejenisnya.  Sarana komunikasi ini bukan hanya sekadar untuk saling menyampaikan informasi dalam komunikasi sosial, akan tetapi lebih dari itu. Kita dapat memanfaatkan sarana tersebut guna mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari internet, dapat kita gunakan untuk mengunggah youtube, dan terlebih saat ini dapat kita gunakan untuk mendukung pelaksanaan Belajar dari Rumah. Oleh sebab itu, setiap siswa tentunya perlu memiliki sarana tersebut. Tentu saja hp tersebut juga didukung oleh tersedianya kuota internet yang memadai. Dalam hal ini hp beserta kuota internet merupakan kebutuhan pokok yang sudah tidak dapat dicegah lagi.

 

  1. Penilaian yang tepat

Penilaian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Melalui kegiatan penilaian guru dapat mengetahui ketercapaian kompetensi siswa baik kompetensi sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Dalam proses pembelajaran, guru akan memberikan berbagai tugas atau soal yang merupakan alat penilaian guna mengukur kompetensi siswa tersebut. Kegiatan pembelajaran dari rumah tentunya tidak sama persis dengan kegiatan pembelajaran di sekolah. Pada saat siswa melaksanakan kegiatan Berlajar dari Rumah mereka dapat ditemani oleh siapa pun dalam keluarga, baik itu kakak, ibu, ayah, bahkan oleh pembantu sekali pun. Oleh sebab itu, guru tidak mungkin akan membatasi bahwa yang dikerjakan oleh siswa adalah hasil karya siswa sendiri. Bahkan bisa terjadi sebaliknya. Orang tualah yang menjadi sangat sibuk membantu anaknya. Termasuk juga orang tua akan membantu siswa browsing internet untuk mengerjakan soal yang dianggap sulit, mencarikan sumber-sumber yang lain.  Pada intinya hasil pekerjaan siswa tidak sepenuhnya merupakan hasil mandiri siswa.  Oleh sebab itu, fokus penilaian terhadap siswa sebenarnya bukan semata-mata hasil pekerjaan saja akan tetapi yang lebih mendapatkan apresiasi adalah proses dalam mengerjakan tersebut. Guru perlu menghargai upaya siswa mencari informasi lain, bertanya kepada orang lain, dan sejenisnya.

 

  1. Pemantauan Kepala Sekolah

Kepala sekolah sebagai Top Leader di sekolah mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan pelaksanaan Belajar dari Rumah di setiap kelas. Kepala sekolah perlu memiliki data tentang kegiatan dan keberhasilan pelaksanaannya. Oleh sebab itu kepala sekolah perlu membuat perencanaan dan pelaksanaan supervisi pelaksanaan Belajar dari Rumah. Dalam tahap perencanaan, kepala sekolah perlu membuat program kapan dilaksanakannya supervisi untuk masing-masing kelas atau guru. Pada tahap perencanaan tersebut juga perlu dipersiapkan atau disusun instrumen  supervisi yang  akan digunakan dalam pelaksanaan supervisi. Pada tahap pelaksanaan, kepala sekolah melaksanakan pemantauan terhadap pelaksanakan BDR pada kelas yang telah ditentukan. Kepala Sekolah akan memanfaatkan instrumen yang telah dipersiapkan sebelumnya.  Pada saat pelaksanaan supervisi tersebut, tentunya kepala sekolah akan melaksanakannya secara on line juga. Temuan dalam pelaksanaan supervisi dimanfaatkan kepala untuk menyempurnakan pelaksanaan BDR selanjutnya.

Akhirnya, semua stakeholders pendidikan perlu menyadari bahwa saat ini kegiatan Belajar dari Rumah merupakan suatu keniscayaan. Semua komponen perlu lebih meningkatkan peran sertanya dalam rangka memaksimalkan proses maupun hasil kegiatan Belajar dari Rumah. Dengan harapan semoga kegiatan BdR menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi para siswa selama pandemic covid 19 dewasa ini.

Salam Merdeka Belajar.

Literatur:

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/03/surat-edaran-pencegahan-covid19-pada-satuan-pendidikan

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/04/se-mendikbud-pelaksanaan-kebijakan-pendidikan-dalam-masa-darurat-penyebaran-covid19

Share This Article

OPTIMALISASI BELAJAR DARI RUMAH PADA MASA PANDEMI COVID 19 SISWA SEKOLAH DASAR

Oleh : Mujiyanto Paulus, widyaiswara LPMP Jawa Tengah
 

Pandemi covid 19 telah mengubah sendi-sendi kehidupan manusia. Berbagai kehidupan manusia terdampak oleh adanya virus tersebut. Tidak hanya di bidang kesehatan, akan tetapi  virus tersebut  telah memberikan dampak pada perekonomian, pemerintahan, kehidupan sosial kemasyarakatan, keagamaan, pendidikan, dan hampir semua bidang kehidupan yang lain.  Sungguh peristiwa ini telah mengubah  kehidupan manusia, yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Pada dunia pendidikan, dampak covid tersebut begitu terasa.  Menteri Pendidikan telah mengambil kebijakan tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan pada Masa Darurat Penyebaran Covid 19 (SE Mendikbud No 4/2020). Hal itu diambil dalam rangka mendukung kebijakan Presiden “ Social Distancing” maupun “Physical Dictancing” guna memutus penyebaran covid 19. Kebijakan tersebut seirama dengan kebijakan tentang Work From Home atau Bekerja dari Rumah bagi para pegawai atau karyawan. Keselamatan masyarakat merupakan hukum tertinggi.

Pada awalnya, masyarakat merasakan sesuatu yang aneh dan menganggap enteng himbauan Pemerintah tentang Belajar dari Rumah (BdR). Kenyataan membuktikan bahwa pada saat siswa harus belajar di rumah, justru pada saat yang bersamaan banyak siswa yang berada di luar rumah, bermain-main, berkelompok di halaman rumah, bahkan di jalan-jalan. Demikian juga, saat masyarakan dihimbau untuk di rumah saja, masih banyak yang berada di luar rumah, di jalan, atau bahkan beraktivitas seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.  Sungguh fenomena yang menyedihkan buat kita.

Mengapa banyak siswa yang bermain-main di luar rumah saat pelaksanaan BdR? Bagaimana pelaksanaan BdR yang seharusnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menarik untuk kita cermati. BdR adalah sesuatu yang baru, yang datangnya seperti tiba-tiba dan tidak terencana sebelumnya. Sebagian besar kita tidak siap sebelumnya, baik para siswa, guru, maupun orang tua. Sebelumnya hampir pasti belum ada pendidikan khusus tentang bagaimana Belajar dari Rumah tersebut harus dilaksanakan, siapa saja yang seharusnya terlibat dalam kegiatan tersebut, dan bagaimana metode yang tepat yang dapat diterapkan agar Belajar dari Rumah menjadi efektif.

Pada kesempatan ini penulis tidak akan mempersoalkan siapa yang salah dari situasi semacam itu. Akan tetapi, penulis berbagi pengalaman atau pandangan bagaimana sebaiknya Belajar dari Rumah itu dilakukan.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka mengefektifkan BdR tersebut, yaitu perencanaan pembelajaran, kompetensi guru, suasana belajar, peranan patrenting, fasilitas pendukung, penilaian hasil belajar, serta peranan kepala sekolah. Secara lebih terinci akan penulis bahas satu persatu.

 

  1. Perencanaan yang fleksibel

Perencanaan suatu kegiatan memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan suatu program kegiatan pada hakikatnya betgantung pada perencanaan tersebut. Salah satu ciri perencanaan yang baik adalah disesuaikan dengan kemampuan, situasi, kondisi  kegiatan yang akan dilaksanakan.  Perencanaan pembelajaran yang dilakukan  pada saat keadaan normal di sekolah tentu tidak dapat disamakan dengan perencanaan yang dilakukan pada saat pembelajaran dilaksanakan saat BdR masing-masing siswa. Guru tidak mungkin dapat menunggui secara langsung pada saat siswa belajar di rumah. Oleh sebab itu, guru perlu secara fleksibel akan memilih dan memilah substansi materi atau bahan ajar yang sangat memungkinkan untuk dapat diterapkan pada saat siswa Belajar dari Rumah. Sesuai dengan anjuran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, selama BdR siswa jangan dibebani tugas iuntuk menuyelesaikan target kurikulum. Untuk itu, rencana kegiatan yang perlu diberikan untuk siswa perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa. Selain itu, perlu dilakukan kerja sama yang harmonis di antara para guru di sekolah, agar tidak terjadi tumpang tindih antara pembelajaran dari guru yang satu dengan guru yang lain.  Di sinilah perlunya kreativitas dan kerja sama antarguru dalam merancang pembelajaran untuk siswanya.

 

  1. Kompetensi Guru yang memadai

Covid 19 secara tidak langsung telah mengubah paradigma tentang kompetensi guru. Guru dituntut mau tidak mau harus paham IT. Bukan saja untuk kepentinghan pribadi, sekadar berkomunikasi dengan orang lain, akan tetapi lebih dari  itu bagaimana guru mampu memanfaatkan IT dalam proses pembelajaran jarak jauh.  Hal ini tentu sangat mengagetkan kita semua. Kita telah memahami bahwa kompetensi para guru Sekolah Dasar, khususnya generasi yang menjelang usia pensiun, rata-rata kemampuan IT-nya belum memuaskan. Oleh sebab itu, pada awal kegiatan Belajar dari Rumah, kegiatannya terasa belum dimanfaatkan secara maksiamal.  Bahkan ada anggapan saat itu sebagai libur corona. Jadi, sekali lagi selain 4 kompetensi guru (paedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional) guru perlu dituntu untuk menguasai IT untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran jarak jauh (BDR). Dalam penerapan pembelajaran jarak jauh guru dapat memanfaatkan berbagai fitur aplikasi, di antaranya Chating Whats App Group, Google Classroom, Zoom (aplikasi video conference), Skype, Webex, Facebook Life, maupun yang lain. Tentunya dalam memilih jenis  aplikasi yang akan diterapkan perlu dipertimbangkan kemampuan para siswa maupun kondisi orang tua siswa pada umumnya.

 

  1. Suasana belajar yang menyenangkan

Belajar dari Rumah pada hakikatnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan belajar di sekolah. Saat di sekolah mereka sudah dibiasakan selalu tertib, berdisiplin, baik berkaitan denganh waktu maupun kelengkapan pakaian yang dikenakannya. Sedangkan saat siswa Belajar dari Rumah tentunya situasi dan kondisi masing-masing siswa sangat berbeda. Oleh sebab itu, jangan diharapkan saat mereka sedang Belajar dari Rumah, mereka diwajibkan untuk setertib seperti saat belajar di sekolah. Selain itu, saat siswa belajar di sekolah mereka akan bersama-sama dengan banyak teman. Mereka bisa dengan leluasa berkomunikasi dengan teman-temannya, dengan bapak dan ibu guru, penjaga, dan bahkan lebih dari itu. Saat siswa Belajar dari Rumah, kondisi seperti itu tidak akan bisa ditemui. Siswa akan berdiam di rumah dengan kesendiriannya. Paling-paling dengan kakaknya, orang tua, yang sama-sama berada di rumah karena melaksanakan kegiatan Bekerja dari Rumah.  Kondisi dan situasi seperti itu tentu mempunya dampak psikologis bagi siswa. Perasaan bosan, mudah lelah, malas, dan sejenisnya tentu akan mudah sekali siswa rasakan.  Oleh sebab itu, pada kondisi yang seperti itu, guru perlu mengupayakan agar siswa tetap merasa nyaman, senang, dan tidak bosan saat melaksanakan kegiatan Belajar dari Rumah.  Salah satu tindakan yang dapat dilakukan guru adalah mendesain aktivitas pembelajaran yang menarik dan bervariasi. Pada saat siswa Belajar dari Rumah, rasanya tidak pas apabila guru menjelaskan materi pembelajaran secara panjang lebar seperti saat pembelajaran di kelas. Demikian juga sebaliknya, guru tidak pas jika selalu memberikan tugas terus menerus. Seaolah-olah tugas siswa saat belajar adalah mengerjakan tugas, seperti PR di rumah. Jika hanya sehari atau dua hari barangkali tugas seperti itu tidak terlalu dirasakan beratnya. Akan tetapi, jika itu dilakukan terus-menerus tentu akan membuat kebosanan siswa yang luar biasa. Jadi, solusinya lakukan kegiatan Belajar dari Rumah yang bervariatif.  Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan siswa di antaranya tugas yang memberikan pengalaman belajar yang bermakna, difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, tugas pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan minat siswa, serta mempertimbangkan kesenjangan akses.

Selain itu, berikan kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan permainan sesuai dengan minat masing-masing siwa. Berikan kesempatan siswa untyuk main game yang ada di hp masing-masing, atau berikan kesempatan bagi siswa untuk aktivitas fisik misalnya loncat-loncat, jalan, atau kegiatan yang lain untuk menyelingi kegiatan Belajar dari Rumah.

 

  1. Memaksimalkan parenting

Pendidikan pada hakikatnya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masayarakat, dan orang tua. Selama ini pernyataan itu seperti slogan belaka yang dalam praktiknya belum dioptimalkan. Menurut pengamatan penulis, belum banyak orang tua yang memberikan bantuan yang cukup besar kepada anaknya khususnya dalam hal bantuan belajar siswa. Sebagian orang tua telah disibukkan dengan tugas mereka masing-masing. Mereka lebih menyerahkan nasib pendidikan anaknya kepada guru di sekolah. Saat sekarang ini nampaknya saat yang tepat untuk menyadarkan orang tua betapa penting bantuan orang tua bagi anaknya saat siswa melaksanakan kegiatan Belajar dari Rumah.  Orang tua perlu meluangkan waktu untuk menemani anaknya Belajar dari Rumah. Hal ini memang banyak tantangannya. Sebagian orang tua masih harus kerja di luar rumah untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu. Jika ada orang tua yang di rumah karena melaksanakan Bekerja dari Rumah, mereka telah disibukkan dengan kegiatan masing-masing.  Akan tetapi, orang tua yang bijaksana tentunya akan berupaya semaksimal mungkin dapat menemani anaknya saat anaknya Belajar dari Rumah.

Selain itu, guru harus lebih meningkatkan intensitasnya dalam berkomunikasi dengan orang tua siswa. Maksimalkan grup wa untuk memantau perkembangan belajar siswa di rumah. Jangan segan-segan guru menyapa para wali muridnya setiap waktu.  Tanyakan kendala yang terjadi. Berikan solusi yang bijaksana jika terjadi permadsalahan.

 

  1. Fasilitas yang mendukung

Dalam bahasa Jawa ada pepatah “Jer Basuki Mawa Beya”. Ungkapan tersebut sampai saat itu masih relevan di berbagai bidang kehidupan. Bahwa setiap kegiatan agar mendapatkan hasil yang maksimal, diperlukan biaya. Demikian juga saat sekarang ini. Pelaksanaan Belajar dari Rumah tidak akan dapat dilaksanakan jika tidak ada sarana komunikasi yang beriupa hp atau sejenisnya.  Sarana komunikasi ini bukan hanya sekadar untuk saling menyampaikan informasi dalam komunikasi sosial, akan tetapi lebih dari itu. Kita dapat memanfaatkan sarana tersebut guna mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari internet, dapat kita gunakan untuk mengunggah youtube, dan terlebih saat ini dapat kita gunakan untuk mendukung pelaksanaan Belajar dari Rumah. Oleh sebab itu, setiap siswa tentunya perlu memiliki sarana tersebut. Tentu saja hp tersebut juga didukung oleh tersedianya kuota internet yang memadai. Dalam hal ini hp beserta kuota internet merupakan kebutuhan pokok yang sudah tidak dapat dicegah lagi.

 

  1. Penilaian yang tepat

Penilaian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Melalui kegiatan penilaian guru dapat mengetahui ketercapaian kompetensi siswa baik kompetensi sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Dalam proses pembelajaran, guru akan memberikan berbagai tugas atau soal yang merupakan alat penilaian guna mengukur kompetensi siswa tersebut. Kegiatan pembelajaran dari rumah tentunya tidak sama persis dengan kegiatan pembelajaran di sekolah. Pada saat siswa melaksanakan kegiatan Berlajar dari Rumah mereka dapat ditemani oleh siapa pun dalam keluarga, baik itu kakak, ibu, ayah, bahkan oleh pembantu sekali pun. Oleh sebab itu, guru tidak mungkin akan membatasi bahwa yang dikerjakan oleh siswa adalah hasil karya siswa sendiri. Bahkan bisa terjadi sebaliknya. Orang tualah yang menjadi sangat sibuk membantu anaknya. Termasuk juga orang tua akan membantu siswa browsing internet untuk mengerjakan soal yang dianggap sulit, mencarikan sumber-sumber yang lain.  Pada intinya hasil pekerjaan siswa tidak sepenuhnya merupakan hasil mandiri siswa.  Oleh sebab itu, fokus penilaian terhadap siswa sebenarnya bukan semata-mata hasil pekerjaan saja akan tetapi yang lebih mendapatkan apresiasi adalah proses dalam mengerjakan tersebut. Guru perlu menghargai upaya siswa mencari informasi lain, bertanya kepada orang lain, dan sejenisnya.

 

  1. Pemantauan Kepala Sekolah

Kepala sekolah sebagai Top Leader di sekolah mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan pelaksanaan Belajar dari Rumah di setiap kelas. Kepala sekolah perlu memiliki data tentang kegiatan dan keberhasilan pelaksanaannya. Oleh sebab itu kepala sekolah perlu membuat perencanaan dan pelaksanaan supervisi pelaksanaan Belajar dari Rumah. Dalam tahap perencanaan, kepala sekolah perlu membuat program kapan dilaksanakannya supervisi untuk masing-masing kelas atau guru. Pada tahap perencanaan tersebut juga perlu dipersiapkan atau disusun instrumen  supervisi yang  akan digunakan dalam pelaksanaan supervisi. Pada tahap pelaksanaan, kepala sekolah melaksanakan pemantauan terhadap pelaksanakan BDR pada kelas yang telah ditentukan. Kepala Sekolah akan memanfaatkan instrumen yang telah dipersiapkan sebelumnya.  Pada saat pelaksanaan supervisi tersebut, tentunya kepala sekolah akan melaksanakannya secara on line juga. Temuan dalam pelaksanaan supervisi dimanfaatkan kepala untuk menyempurnakan pelaksanaan BDR selanjutnya.

Akhirnya, semua stakeholders pendidikan perlu menyadari bahwa saat ini kegiatan Belajar dari Rumah merupakan suatu keniscayaan. Semua komponen perlu lebih meningkatkan peran sertanya dalam rangka memaksimalkan proses maupun hasil kegiatan Belajar dari Rumah. Dengan harapan semoga kegiatan BdR menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi para siswa selama pandemic covid 19 dewasa ini.

Salam Merdeka Belajar.

Literatur:

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/03/surat-edaran-pencegahan-covid19-pada-satuan-pendidikan

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/04/se-mendikbud-pelaksanaan-kebijakan-pendidikan-dalam-masa-darurat-penyebaran-covid19

Share This Article

Go to Top