sumber : https://budayajawa.id/makna-dalam-jawa-ungkapan-ojo-dumeh

Ungkapan ojo dumeh sangat populer dalam masyarakat Jawa. Saking populernya, ojo dumeh menjadi “mantra” bagi banyak orang Jawa. Pesan itu sering dituliskan di pintu rumah, teras, pendopo, ruang tamu, dan ruang keluarga. Tak jarang beberapa warung makan dan kedai kopi menghiasi ungkapan itu di sudut ruangnya.

            Meskipun ungkapan ojo dumeh begitu populer, kenyataannya pesan dan maknanya belum terwujud dalam perilaku sebagian masyarakat. Terlebih di zaman yang semakin hedonis seperti sekarang ini, justru banyak orang semakin dumeh. Pitutur luhur yang terkandung dalam ojo dumeh hanya sekadar manis di bibir saja dan hiasan dinding semata.

            Kolom pitutur kali ini bermaksud menyegarkan kembali semangat ojo dumeh dalam perilaku kita sehari-hari. Sesungguhnya, pesan Ojo Dumeh sangat baik diwujudkan dalam perilaku kerja kita di kantor atau sekolah, tindakan kita saat di rumah, dan perilaku sosial kita di masyarakat.

            Ojo dumeh, secara etimologis berarti ojo = jangan; dumeh = karena. Secara umum, ojo dumeh dimaknai “jangan mentang-mentang”. Pesan itu menyarankan kepada kita agar tidak larut dengan apa yang kita miliki dan jalani. Jangan karena hal itu, kita bertindak sembrono dan menyimpang. Para orang tua sering kali menyematkan pesan lanjutan seperti ini: “ojo dumeh yen ora pengin keweleh”.

            Untuk mewujudkan pesan moral yang dikandung ojo dumeh dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lakukan dalam tindakan berikut. Jangan karena kaya kita menjadi sombong dan merasa segalanya dapat dibeli dengan uang. Pun sebaliknya, jangan karena miskin kita menjadi putus asa dan jauh dari rasa syukur, mudah iri dengki, dan senang mengumpat. Ojo dumeh juga berlaku atas kedudukan, kekuasaan, kepintaran, atau kemolekan rupa yang kita miliki menjadikan lupa diri. Segayutan dengan pesan ojo dumeh itu, kita semestinya dapat meniru ilmu padi yang makin berisi makin merunduk. Semakin tinggi ilmu, kududukan, atau kekayaan yang kita miliki semestinya membawa kita menjadi pribadi yang rendah hati. Tidak mudah memang melakukan hal seperti itu, karena umumnya orang ingin menunjukkan eksistensinya, gemar sanjungan dan pujian atas kemampuan dan kepemilikannya. Namun, jika kita menyadari dan berkehendak menerapkan pesan moral ojo dumeh dalam kehidupan bermasyarakat, sudah pasti kita mampu melakukannya.

            Di saat wabah virus Covid-19 merebak di sekitar kita saat ini, kiranya pesan moral ojo dumeh perlu kita jadikan salah satu nilai dalam berpikir dan bertindak. Dalam wujud apa ojo dumeh menjadi landasan bersikap dan bertindak menghadapi bahaya Corona yang semakin menggila? Paling tidak, jangan mentang-mentang sehat, kita menyepelekan ganasnya virus Covid-19 yang mengendap siap menyergap. Jangan karena diberi kelonggaran untuk bekerja dari rumah malah digunakan bertamasya atau bersantai tanpa karya. Jangan karena kuasa, kita bertindak semau sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Jangan juga karena kita menderita lalu menyalahkan upaya pemerintah mengatasi wabah Corona yang sedang melanda negeri ini.

            Kearifan pesan oja dumeh adalah keseimbangan. Seimbang antara ego-pribadi dan etika-sosial, seimbang antara jagad cilik dan jagad gede. Seperti pesan simbah kita dulu: ojo dumeh, eling lan waspoda!