Pada tahun 1980-an, pemerintah menggunakan istilah pendidikan moral untuk mata pelajaran yang mengajarkan budi pekerti, ahlak atau nilai-nilai kehidupan. Pendidikan Moral Pancasila (PMP), nama pelajarannya, dikenalkan pertama kali pada Kurikulum 1975 Edisi Revisi (Nishimura, 1995) dan diimplementasikan hingga Kurikulum 1984.
Di masa berikutnya istilah pendidikan moral menghilang, dan berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Bahkan pernah berganti nama menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) seolah-olah menghilangkan unsur moral (ethics) dan mengutamakan unsur kewarganegaraannya (civic). Pada Kurikulum 2013, pendidikan nilai-nilai, budi pekerti atau ahlak kembali mendapat perhatian dari kementerian pendidikan dan muncullah istilah pendidikan karakter.
Dari segi makna, istilah moral dan karakter memiliki sedikit perbedaan, namun tujuannya sama yakni membentuk seseorang menjadi lebih baik dalam bertindak dan bersikap. Artikel ini mengkhususkan mengulas tentang moral. Pembahasan tentang karakter akan disampaikan pada artikel berikutnya, mudah-mudahan.
Jewell (2006) menyatakan bahwa pendidikan moral sejatinya adalah pendidikan yang bertujuan agar seseorang mampu bertindak, berperilaku dan mengambil keputusan dengan baik dan benar demi orang lain dan lingkungannya.
Semakin banyak orang lain mendapatkan efek baik dari tindakan seseorang, bisa dikatakan seseorang tersebut bermoral. Sebaliknya, jika seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri ketika bertindak, sehingga tindakannya tidak memberi efek baik pada orang lain, maka orang tersebut bisa dikatakan tidak bermoral.
Makna moral tersebut serupa dengan konsep moral dalam Islam, yang berbunyi khoerunnas anfauhum linnas (sebuah hadits dengan derajat sahih riwayat Thabrani dan Daruqutni), yang berarti ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain’.
Kesimpulannya, moral berhubungan dengan perilaku, tindakan dan keputusan pribadi serta efeknya terhadap orang lain. Orang yang bermoral, akan memikirkan orang lain ketika bertindak, berperilaku dan mengambil keputusan.
Pemahaman tentang moral seperti itu sudah menjadi pemahaman umum di negara-negara maju, dirujuk dan diajarkan di perguruan-perguruan tinggi di barat.
Gambaran tentang kompetensi moral seseorang dapat dilihat pada contoh kasus berikut ini:
Contoh 1: Sepulang sekolah, Andi yang saat itu duduk di kelas 8 SMP menemukan amplop berisi uang 1 juta rupiah. Ada nama dan alamat di dalamnya. Namun nama dan alamat tersebut tidak terbaca oleh Andi karena perasaan senangnya. Maklum, dia belum pernah melihat uang sebanyak itu. Dalam perjalanan pulang, Andi mampir ke toko elektronik untuk membeli HP merk terbaru dengan uang tersebut. Malam harinya, Andi mentraktir teman-temannya makan bakso dengan menggunakan uang tersebut.
Contoh 2: Sementara itu Amir, yang duduk di kelas 9 SMP, juga menemukan amplop berisi uang 1 juta rupiah di tempat yang berbeda. Awalnya Amir merasa senang seolah-olah mendapatkan rejeki tiban dan bergegas menuju toko HP. Namun, belum lagi dia masuk ke toko, dia mengurungkan niatnya untuk membeli HP dengan uang tersebut. Ada yang dipikirkan Amir. Dia merasa kasihan dengan pemilik uang tersebut yang tentu sedang bersedih karena kehilangan uang. Mungkin uang itu akan digunakan untuk berobat, atau untuk biaya sekolah anaknya atau … banyak hal yang dipikirkan Amir. Akhirnya Amir mengurungkan niatnya untuk mempergunakan uang itu dan mencoba mengembalikan kepada pemiliknya melalui nama dan alamat yang tercantum pada amplop.
Baik andi maupun Amir menghadapi masalah yang sama: Menemukan amplop di jalan. Namun Andi hanya memikirkan dirinya sendiri ketika mengambil tindakan terkait penemuan amplop tersebut. Bisa dikatakan Andi tidak memiliki kompetensi moral yang memadahi dalam memecahkan masalah tersebut.
Di sisi lain, Amir ternyata memikirkan si pemilik amplop yang hilang dalam memutuskan masalah penemuan amplop. Amir, karena memikirkan orang lain, memutuskan tindakan yang lebih baik, yakni mengembalikan amplop itu kepada pemiliknya.
Dari contoh kasus di atas dapat disimpulkan bahwa memikirkan orang lain (kepentingannya, hajat hidupnya, bahkan perasaannya) dapat membantu kita mengambil sebuah keputusan yang bermoral.
—————————
*) Oleh Dedy Gunawan. Tulisan ini diterjemahkan dan disari dengan pengayaan dari buku The PAVE (Principles, Agreements, Virtues, and End Consequences) Strategy: The Influence of a moral reasoning strategy on teachers’ moral reasoning (Gunawan. D., 2010).
 
Gambar ilustrasi diperoleh dari: https://strangenotions.com/