SMK menyiapkan lulusannya siap masuk ke industri atau siap bekerja,  tetapi data berbicara lain jumlah lulusan SMK yang menganggur lebih banyak dari jumlah lulusan SMA. Selayaknya sebuah masalah yang timbul, kita harus mencari akar masalahnya terlebih dahulu kedalam diri kita, kemudian baru dilakukan sebuah aksi untuk menanggulangi masalah. Action item yang paling mudah yang bisa dilakukan oleh seorang guru untuk mengatasi permasalahan adalah dengan instrospeksi diri. Jika kita melihat kedalam apakah kita benar-benar telah mendidik siswa kita untuk siap bekerja. Kemudian sudahkah kita mengajar dengan system yang cocok dengan industri, dimana nantinya siswa akan bekerja.

Bukankah sistem dalam dunia industri berdasar peningkatan produktifitas dalam bekerja, dan berusaha melakukan perbaikan dalam bekerja secara terus menerus atau dalam bahasa jepang disebut kaizen. Guru profesi yang tidak hanya mulia tetapi juga nyaman, karena jika diibaratkan rantai produksi, profesi guru mempunyai konsumen yang paling nrimo yaitu murid. Murid jarang protes terhadap pelayanan guru, tidak diajar justru senang atau dengan kata lain tidak diberi pelayanan justru senang.

Comfort Zone atau Zona nyaman seperti ini terkadang melenakan dan membuat produktifitas turun. Ketika produtifitas menurun maka yang dirugikan adalah konsumen atau siswa didik. Tanpa evaluasi yang memadai dan control yang ketat maka seseorang yang sudah menetap di zona nyaman akan cenderung tinggal tak berdaya dalam wilayah yang diciptakan sendiri, hal ini akan menumpulkan kreatifitas dan nyali untuk menuju perbaikan.

Tugas berat dalam pendidikan kejuruan tidak hanya penyediaan fasilitas yang memadai. Akan tetapi ada yang lebih mendasar bagaimana membuat ekosistem dalam dunia kerja berubah. Bagaimana membuat zona nyaman kearah positif, seperti kita ketahui bersama sisi positif dari comfort zone adalah rasa nyaman tanpa adanya kecemasan. Dengan adanya zona nyaman maka kita bisa leluasa mengadakan eksperimen kearah peningkatan produktifitas karena kita sudah terbebas dari rasa khawatir. Apapun yang kita berikan kepada murid, mereka menerima.

Problem utama adalah memahamkan sisi positif comfort zone ke internal sesama guru. Karena mereka adalah eksekutor dilapangan, tanpa adanya semangat perubahan guru maka kebijakan apapun di tingkat atas tidak akan terealisasi dengan baik. Perubahan budaya bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana yaitu mulai saat ini, mulai dari hal kecil dan mulai dari sendiri. Dari berbagai gambaran permasalahan dan budaya diatas, meskipun misalnya fasilitas sudah dipenuhi peraturan sudah dibuat, tujuan akhir pendidikan kejuruan tidak tercapai, jika tidak ada kontrol bersama terhadap proses.

Jika kita merujuk pada industri dalam mengelola produktivitas pegawainya, saya kira hal ini bisa di implementasikan ke dunia pendidikan. Untuk memperbaiki mindset dan menumbuhkan jiwa kreatifitas maka bisa dilakukan dengan hal yang sederhana tapi kontinyu. Di industri di kenal adanya kaizen atau perbaikan terus menerus kearah yang lebih baik. Dalam bahasa Jepang, kaizen berarti perbaikan yang berkesinambungan, yang selalu dilakukan secara terus menerus. Hal-hal sederhana dalam kaizen sangat berguna menjaga produktifitas karyawan untuk mencapai tujuan yang lebih besar, mulai saja dari konsep 5s atau seiri, seiton, seiso, seiketsu dan shitsuke kalau di sulih bahasakan adalah ringkas, rapi, rawat, resik dan rajin jika secara kontinyu dilakukan maka akan terbentuk culture yang bagus dalam lingkungan sekolah.

Selain 5S dijalankan maka perlu di sandingkan konsep Horenso atau Laporankan, Informasikan dan Konsultasikan. Biasakan melaporkan sesuatu masalah, tetapi beda dengan “wadul” karena horenso harus di buat kontinyu atau membuat sesi rapat mingguan, atau bulanan. Laporan yang di berikan harus memperhatikan fakta. Fakta ditekankan pada 5W+2H (what, who, when, where, why, how, how much/many). Artinya pada saat anda melaporkan progress pekerjaan atau tugas yang diberikan, anda harus sudah siap dengan semua aspek tersebut (5W+2H).,Kemudian dengan guyub rukun carilah akar masalah tersebut untuk kebaikan bersama dengan menuliskan pasti siapa yang bertanggung jawab, kapan target selesai dan kapan evaluasinya. Jika hal ini bisa dilakukan oleh semua SDM sekolah maka akan timbul kesadaran untuk perbaikan bersama-sama menuju sekolah yang lebih baik.

Konsep kaizen adalah perbaikan berkesinambungan, perbaikan ini memerlukan peran serta semua orang baik pimpinan maupun bawahan. Setiap fungsi dalam organisasi baik sekolah atau industri, baik TU, guru dan siswa harus turut serta dalam pelaksanaan kaizen. Filsafat kaizen menganggap bahwa cara hidup kita seperti kehidupan kerja, kehidupan sosial maupun kehidupan rumah tangga hendaknya terfokus pada upaya perbaikan secara terus menerus. Perbaikan dalam kaizen bersifat kecil dan berangsur, perubahan dilakukan dengan berangsur angsur sehingga orang didalam organisasi dapat beradaptasi secara pelan-pelan dalam menerima perubahan, sehingga perubahan di SMK bisa terlaksana.

 

Bibliography

BPS. Berita Resmi Statistik. Jakarta: BPS, 2019.

Humas Setkab. Mayoritas Pengangguran Lulusan SMK, Jokowi Minta Sistem Pendidikan Vokasi Dirombak. September 13, 2016. http://setkab.go.id/mayoritas-pengangguran-lulusan-smk-presiden-jokowi-minta-sistem-pendidikan-vokasi-dirombak/ (accessed November 6, 2016).

Liker, Jeffrey K. The Toyota Way. Jakarta: Erlangga, 2006.

Martono, Budi. IMPLEMENTASI KAIZEN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA.

January 03, 2013.

http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/departemen-

bangunan-30/410-implementasi-kaizen-untuk-meningkatkan-produktivitas-kerja

(accessed November 8, 2016).

 
Penulis : Abdul Malik Nugroho, S.Pd.T – Guru SMKN 7 Kota Semarang