Semarang-LPMP Jateng. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan  Bimbingan Teknis Supervisi Pemenuhan Mutu Pembelajaran In Service Training II Angkatan II pada hari Rabu-Jumat, tanggal 21-23 Oktober 2021 di  LPMP Jateng. Kegiatan Bimtek ini diikuti oleh 75 Pengawas Sekolah Zona Harapan Jenjang SD dan SMP dari Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Banyumas, Jepara, Kudus, Karanganyar, Sragen, Rembang, Blora, Semarang, Kota Tegal dan Surakarta, serta 44 Pengawas Sekolah Zona Harapan Jenjang  SMA se-Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Bimtek Supervisi PMP in service I yang dilaksanakan secara online dan kegiatan supervisi di sekolah binaan masing-masing untuk tahap on service learning.

Kegiatan bimtek in service II merupakan wahana bagi pengawas sekolah zona harapan untuk 1) mereviu hasil kegiatan on service learning, 2) memaparkan hasil  supervise pemenuhan mutu pembelajaran, 3) memperoleh penguatan supervise PMP  literasi, numerasi  dan karakter pelajar Pancasila, 4) pengolahan dan analisis hasil supervise melalui Aplikasi SPMI GO, 5) penyusunan lapoan hasil supervisi, dan 6) evaluasi hasil kegiatan supevisi yang telah dilaksanakan di sekolah binaan masing-masing.

Kegiatan bimtek dimulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 21.00. Acara malam hari dilaksanakan secara mandiri oleh peserta guna menyelesaikan tugas dan finalisasi hasil kerja sesuai dengan jadwal. peserta melaksanakan registrasi dengan mengumpulkan biodata yang telah diisi sebelum berangkat melalui aplikasi  ULT LPMP Jateng, sehingga memudahkan dan mempercepat proses pendaftaran.  Peserta menerima ATK kegiatan, kunci kamar penginapan dan  penjelasan terkait dengan pelaksanaan Bimtek.

Kegiatan dibuka oleh Koordinator Jabatan Fungsional LPMP Jateng, Dr. Tartib Suriyadi, S.IP., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan informasi terbaru terkait kebijakan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, seperti isi sambutan Dirjen PAUD Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Jumeri, STP, M.Si dalam Kegiatan Rakor Program Sekolah Penggerak Provinsi Jawa Tengah tanggal 12-13 November 2021 di Hotel Sunan Solo.

  1. Pembelajaran Tatap Muka

Sehubungan dengan kondisi pandemic yang secara umum telah mencapai PPKM Level 1, yang bisa dikatakan sudah tidak ada pembatasan. Semua sekolah didorong untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Dengan pembelajaran jarak jauh selama ini dikawatirkan para siswa sudah jauh tertinggal capaian belajarnya. Bilamana ada kasus Covid di suatu sekolah maka cukup sekolah tersebut yang dilockdown. Tentunya berbeda dengan tuntutan Sebagian orang  bahwa bila ditemukan 1 kasus corona maka seluruh wilayah harus ditutup. Bahkan ada juga yang menuntut satu negara ditutup total.

  1. Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Terkait dengan BOS, Kemdikbud telah menetapkan kebiajkan relaksasi bagi sekolah. Hal ini untuk menyesuaikan dengan indeks kemahan dan afirmasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. Sekolah diharuskan mengumpulkan rekening untuk standarisasi Kemenkeu sebelum tanggal 21 November 2021. Dengan itu diharapkan pencairan BOS bisa tepat waktu sejak awal tahun. Yang mengejutkan, ternyata dari hasil monev menunjukan bahwa ada 8000 sekolah yang belum mengumpulkan laporan pencairan tahap I. Perlu digarisbawahi bahwa pada 31 Desember ini saldo harus 0. Jika tidak, maka pencairan pada periode berikutnya akan sama dengan jumlah yang bisa diserap di akhir tahun.

  1. Asesmen Nasional (AN)

AN meliputi Asesmen Kompetensi Minimal (literasi dan numerasi), survei karakter dan survei lingkungan belajar. Hasil AN pada tahun 2021 merupakan data dasar (Base line) atas evaluasi system Pendidikan.  Pemerintah akan terus memantau tingkat perubahan/delta yang dicapai dari tahun ke tahun yang akan menunjukan peningkatan mutu pendidikan.

  1. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)

Pemerintah bertekad untuk mempertahankan system zonasi pada PPDB tahun mendatang. Meskipun ada Sebagian masyarakat yang protes dan meminta system dikembalikan seperti dahulu kala.  Namun hasil monev oleh Kemdikbud menunjukan bahwa terjadi kenaikan prestasi pada sekolah-sekolah pinggiran. Selama ini , sekolah-sekolah tersebut hanya mendapatkan siswa sisa dari sekolah-sekolah favorit.  Dengan zonasi terjadi pemerataan kualitas input yang sekaligus akan mendorong terciptanya peningkatan kualitas proses dan output.

  1. Program Sekolah Penggerak (PSP)

Berkolaborasi dengan pemerintah daerah, Kemdikbud Ristek telah mengimplementasikan PSP. Program ini merupakan salah satu upaya untuk mencapau visi Pendidikan Indonesia yaitu mewujudkan Indonesia maju berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia , bergotong royong, dan berkebinekaan global.  Sekolah yang  berfokus pada  pengembangan hasil  belajar siswa secara  holistic. Untuk mencapai tujuan ini, dilakukan lima intervensi melalui:

    • Pendampingan konsultatif dan asimetris,
    • Penguatan SDM sekolah (kepala  sekolah, pengawas, penilik dan guru).
    • Pembelajaran dengan paradigma baru yang berorientasi pada penguatan kompetensi dan pengembangan karakater,
    • Perencanaan berbasis data sebagi bagian dari manajemen sekolah, dan
    • Digitalisasi sekolah dengan penggunaan berbagai platform untuk mengurangi kompleksitas, meningatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang disesuaikan. (DAR)

Check In. Peserta melakukan registrasi untuk mendaftarkan diri dengan dilayani oleh panitia penyelenggara. (Photo by Hardi)

Laporan Penyelenggara. Ketua Panitia Penyelenggara, Andri Budianto, ST, MT. menyampaikan laporan pada pembukaan Bimtek (Photo by Hardi)

Penuh Perhatian. Peserta Bimtek mengikuti jalannya upacara pembukan dengan penuh khidmat. (Photo by Hardi)


 

Presentasi. Peserta menyampaikan reviu pelaksanaan supervise di sekolah binaannya (Photo by Gethuk)