Jakarta, LPMP Jateng – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, 27/09/2021, menyatakan dukungannya terhadap strategi yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk penerapan strategi pengendalian Covid-19 yang lebih aktif. Strategi tersebut meliputi pelaksanaan tes acak di satuan pendidikan. Kemudian, integrasi aplikasi PeduliLindungi pada satuan pendidikan untuk menghasilkan data yang valid.

Nadiem menyatakan dukungannya terhdap program ini yang secara proaktif akan menemukan dan secara statistik akan mencapai level akurasi tinggi. “Data ini dapat menunjukkan apakah kita patut khawatir apa tidak,” Ungkap Mendikbudristek. Nadiem menegaskan akan menutup sekolah-sekolah penyelenggara pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan kasus terkonfirmasi positif (positivity rate) di atas lima persen.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan strategi baru pelacakan kasus secara aktif (active case finding). Di mana sebelumnya, pelacakan menargetkan kepada orang-orang bergejala, maka ke depan akan diubah menjadi lebih aktif melakukan pelacakan kontak (contact tracing) dan surveilans (survei). Testing, menurut Menkes, akan dilakukan terhadap 1,7 juta per bulan, atau sekitar 30 ribu orang per hari.

“Bilamana ditemukan kasus positif di sekolah penyelenggara PTM terbatas, maka dilakukan prosedur isolasi dan karantina. Bilamana kasus terkonfirmasi positif mencapai satu sampai dengan lima persen, maka dilakukan tes untuk semua rombongan belajar (rombel) dan semua rombongan belajar dikarantina di rumah” Tegas Budi Gunadi Sadikin. “jika (kasus terkonfirmasi positif) di atas lima persen, maka kita tes semua anggota sekolah, dan semua anggota sekolah itu dikarantina di rumah dulu,” Tambahnya.

Menteri Budi menekankan bahwa dengan strategi baru ini, pemerintah mendorong aktivitas kehidupan masyarakat memenuhi protokol kesehatan dan surveilans yang baik. “Kalau dua itu kita lakukan, di sisi hulu, maka mudah-mudahan kita bisa mengendalikan pandemi ini dan hidup normal, tetapi sehat,” Pungkasnya.

Diberitakan pada portal berita https://www.kemdikbud.go.id/, Mendikbudristek juga menyampaikan kekhawatiran karena masih sedikitnya sekolah yang menyelenggaran PTM terbatas. Hal tersebut lebih mengkhawatirkan daripada kemungkinan akan terjadinya klaster di sekolah, karena strategi pengendalian yang diterapkan pemerintah saat ini jauh lebih baik. “Saya lebih khawatir bahwa hanya 40 persen dari sekolah kita yang melakukan PTM terbatas. Jadi, ada 60 persen sekolah kita yang sebenarnya sudah boleh melakukan PTM, yang belum melakukannya,” ungkapnya.

Berdasarkan sejumlah penelitian, risiko learning loss akibat pembelajaran jarak jauh yang kurang optimal sangat mengancam masa depan bangsa Indonesia dan berdampak permanen pada anak. “Apalagi di tingkat SD dan PAUD, di mana mereka paling membutuhkan PTM. Kalau sekolah-sekolah ini tidak dibuka, dampaknya bisa permanen,” tutur Menteri Nadiem. DdG

(Disari dari berita resmi Kemdikbudristek di https://www.kemdikbud.go.id/, dengan penulis Danasmoro).