Lulud Prijambodo Ario Nugroho, PTP Ahli Muda LPMP Jawa Tengah

Ayo kita putus mata rantai covid-19

Ayo kita perjuangkan supaya jumlah penderita covid-19 tidak bertambah

Ayo kita bisa!!!

Salah satu dampak dari pandemi covid-19 adalah berpindahnya proses pembelajaran dari sekolah ke rumah, atau dari pembelajaran langsung menjadi tidak langsung. Perubahan yang sangat mendadak ini tentu saja banyak sekali mempengaruhi berlangsungnya proses pembelajaran tahun ajaran 2019/2020. Salah satunya adalah hilangnya ujian nasional, dan beberapa ujian tulis berubah menjadi ujian online. Pembelajaran tatap muka bergeser menjadi pembelajaran di rumah.

Gambar 1. Slogan Belajar di rumah

Warga belajar di di sekolah banyak yang kaget. Warga belajar di sekolah adalah guru, siswa dan wali siswa. Salah satu penyebab kagetnya para warga belajar adalah a) guru belum terbiasa melakukan pembelajaran tanpa tatap muka; b) siswa belum terbiasa melakukan kegiatan belajar mandiri; dan c) orang tua terbiasa menyerahkan proses belajar anak kepada guru; serta d) sarana dan prasarana yang dimiliki belum sepenuhnya seperti yang diharapkan sejak awal, yaitu tersedianya HP android atau laptop yang selalu terkoneksi dengan internet.

Permasalahan tersebut segera ditangani oleh beberapa Lembaga yang ikut bertanggungjawab, diantaranya adalan dinas Pendidikan, MGMP, LPMP, P4TK dan beberapa Lembaga Pendidikan swasta pemilik LMS ,misal gogle, Microsoft, ruang guru, rumah belajar dan masih banyak lagi. Bagi guru, segera ditindak lanjuti oleh beberapa lembaga segera memberikan pelatihan atau bimbingan singkat, supaya guru mampu memproses pembelajaran secara daring. Tetapi bagi siswa, proses pembelajaran siswa sangat tergantung dengan metode dan strategi guru cara membelajarkan mereka selama berada di rumah.

Dan bagi orang tua, orang tua hanya diberi informasi bahwa anak akan diberi tugas baik secara daring atau melalui wa. Juga orang tua hanya diberi tahu bahwa anak harus mengumpulkan tugas sesuai batas waktu yang diberikan. Dalam hal ini kita seperti abai dalam memberikan bimbingan bagi orang tua siswa, sehingga mereka dapat memberikan pendampingan bagi anak anak mereka saat belajar di rumah. gambaran tentang bagaimana sekolah diselenggarakan di rumah, orang tua perlu contoh nyata. Salah satu caranya adalah memberikan semacam panduan bagi orang tua siswa dalam mendampingi anaknya, saat mereka harus belajar mandiri. Homeschooling merupakan satu proses pembelajaran alternative. Homeschooling dilaksanakan oleh para orang tua yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak mereka ke sekolah formal.

Gambar 2. Anak sedang belajar

Tujuan

Tujuan penulisan artikel adalah untuk memberikan informasi tentang peran orangtua saat anaknya harus di rumah.

Homeschooling

Homeschooling atau pembelajaran jarak jauh ya. Sebenarnya keduanya memiliki kesamaan konsep tentang cara belajar bermakna disaat guru dan siswa tidak mungkin bertemu secara langsung. Homeschooling diusung ke Indonesia oleh pakar Pendidikan anak di Indonesia, yaitu Kak Seto. Homeschooling (HS) merupakan alternatif salah satu model belajar tanpa harus masuk ke sekolah. Istilah homeschooling berasal dari bahasa Inggris ini mempunyai sekolah rumah. Pertama kali sistem Pendidikan ini tumbuh di Amerika Serikat. Di negara asalnya biasa di sebut home education, home based learning atau sekolah mandiri.

Banyak sekali tokoh tokoh dunia yang menjadi besar karena melakukan proses belajar di rumah sendiri. Homeschooling diselenggarakan dengan  bimbingan orang tua dan guru pembimbing. maksudnya tanggungjawab pendidikan anak merupakan tanggungjawab keluarga, sehingga rumah merupakan basis Pendidikan anak. Di sini orang tua terlibat langsung pada proses pembelajaran bagi anaknya.

Perbedaan homeschooling dengan sekolah formal, salah satu contohnya adalah pada proses pembelajarannya. Di sekolah proses pembelajaran diselenggarakan berdasarkan aturan baku yang ditetapkan oleh sekolah. sementara itu,  di homeschooling proses pembelajarannya sangat fleksibel. Pembelajaran diselenggarakan sesuai dengan keinginan dan alasana yang tepat, sehingga siswa bisa belajar dengan senang dan semangat. Dengan belajar di rumah, maka peranan orangtua sangat tinggi. Orang tua tidak hanya memilih materi pelajaran, namun juga harus mendampingi anaknya saat mereka belajar dan ujian. Tanpa pendampingan orang tua, kemungkinan besar, belajar mandiri di rumah gagal adalah tinggi. Terutama bagi   atau wali siswa yang anaknya sekolah di jenjang SD dan SMP. Belum semua yang bersekolah di jenjang SD dan SMP mempunyai kemampuan belajar secara mandiri.

Gambar 3. proses belajar Bersama

Pembelajaran Saat Siswa Harus Berada Di Rumah

Salah satu upaya pemerintah untuk memutus mata rantai perkembangbiakan virus Covid-19 adalah dengan memberlakukan bekerja di Rumah dan Sekolah Di Rumah. Perubahan ini membuat seluruh warga belajar kaget, karena mereka harus merubah cara memproses pembelajaran secara mendadak. Warga belajar dipindahkan proses belajarnya dari sekolah ke rumah.

Peralihan proses belajar ini tentu membuat kaget bagi para warga belajar, baik itu guru siswa dan terutama adalah wali siswa atau orang tua. Keluhan utama yang muncul di media sosial adalah dari orang tua dan anak. Mengapa? Karena, untuk pembelajaran sekolah di rumah ini, tokoh utamanya adalah anak dan orang tua. Sementara guru hanya memberikan panduan tentang cara belajar di rumah, mengirimkan materi pelajaran beserta tugasnya dan bagian akhirnya adalah menagih tugas yang telah disampaikan. Bagi orangtua, tetiba dapat tambahan tugas sebagai guru bagi anak anaknya untuk semua mata pelajaran, semacam wali kelas. Wah, tentu saja pekerjaan ini bukan pekerjaan sederhana. Menjadi guru, biasanya sudah di delegasikan kepada sekolah. dan di sekolah sudah ada tim guru. Dan saat anak belajar mandiri, tim guru memberi tugas ke rumah melalui media apapun, dan orang tua mewakili tim guru dalam mendampingi anaknya belajar.

Siswa belajar mandiri di rumah, supaya dapat berhasil dengan baik harus ada kerja sama antara guru dan orang tua siswa. Komunikasi yang efektif harus dibangun dengan baik antara wali siswa dengan guru. Dalam hal ini adalah guru kelas, guru mata pelajaran, dan wali kelas.

Beberapa kegiatan yang sebaiknya disampaikan ke wali siswa adalah:

  1. Meminta maaf kepada wali siswa karena telah memberi tugas tambahan bagi mereka;
  2. Menyampaikan pesan ke wali siswa, bahwa saat anak sekolah di rumah, peran guru di sekolah digantikan oleh wali siswa.
  3. Menyampaikan pesan bahwa pembelajaran di rumah hanya akan berhasil jika orang tua terlibat secara langsung
  4. Menyarankan orangtua atau wali siswa untuk belajar bersama anak.
  5. Menggunakan alat komunikasi yang paling efektif yang dapat digunakan oleh guru dan wali siswa;
  6. Selalu memberikan materi pelajaran secara teratur;
  7. Memberikan pedoman cara siswa mempelajari materi;
  8. Mengingatkan kepada wali siswa untuk selalu mendampingi siswa, saat mereka belajar di rumah;
  9. Tugas yang diberikan sebaiknya diatur, misal satu hari satu tugas. Dengan satu hari satu tugas saja, apabila dalam satu rumah terdapat lebih dari satu anak yang bersekolah, berarti wali siswa harus mendampingi semua anaknya yang belajar dalam jenjang berbeda juga;
  10. Karena beratnya beban wali siswa, maka sebaiknya guru menggunakan materi ajar yang mudah dipahami dan guru juga sebaiknya tidak mengejar target ketuntasan mengajar seperti saat terjadi proses pembelajaran secara langsung;
  11. Pengumpulan tugas, sebaiknya menggunakan cara yang paling mudah; yang paling banyak saat ini adalah menggunakan foto yang dikirim melalui wa. Tetapi bisa juga tugas dikumpul saat pandemi sudah berakhir dan siswa sudah masuk sekolah lagi. Dalam hal ini, guru dan orang tua harus dapat mengendalikan proses siswa belajar materi dan menyelesaikan tugasnya tepat waktu seperti kalau dikumpulkan secara daring atau melalui wa.

Pemberian materi dari guru ke siswa, sebaiknya materi yang sederhana. Hal ini disebabkan siswa belajar mandiri dan wali siswa juga belum tentu mampu menjelaskan isi materi. Tentu saja peristiwa “kegagalan” memahami isi materi merupakan hal yang lumrah. Salah langkah yang dilakukan oleh pemerintah adalah menyediakan sebuah portal belajar yang gratis. Yaitu portal rumah belajar. Portal ini, memberi ruang bagi guru dan siswa untuk berinteraksi secara daring. Namun bagi guru yang keadaan wali siswanya belum mempunyai sarana untuk melakukan pembelajaran secara daring, pada portal ini juga menyediakan materi yang dapat diunduh dan dikirimkan langsung ke wali siswa. fitur yang dapat digunakan secara offline ini adalah fitur buku sekolah elektronik.

Di bawah ini sedikita disajikan tentang fitur buku sekolah elektronikyang terdapat pada portal rumah belajar tersebut.

Rumah belajar

Portal  rumah belajar merupakan LMS yang secara gratis disediakan oleh pemerintah. LMS ini dibuat oleh pemerintah sebagai bentuk layanan pemerintah untuk mendampingi siswa belajar secara mandiri. Portal inimenampilkan beberapa fitur yang dapat digunakan oleh guru dan siswa.

Gambar 4. Halaman depan portal rumah belajar

Beberapa fitur tersebut diantaranya adalah kelas digital atau kelas maya, seumber belajar, bank soal, laboratorium maya, buku sekolah elektronik dan masih ada beberapa lagi.

Buku Sekolah Elektronik

Gambar 5. fitur buku sekolah elektronik

Buku sekolah elektronik merupakan fitur yang terdapat pada portal rumah belajar. Fitur berisi buku buku pelajaran dalam bentuk pdf. Buku sekolah elektronik dapat diunduh, sehingga dapat dibaca pada keadaan offline atau bahkan dicetak. Wali siswa dapat memanfaatkan fitur ini saat belajar bersama anak-anak mereka dengan cara yang mudah.

Kata kunci siswa belajar mandiri di rumah adalah siswa dan wali siswa belajar Bersama. Mereka akan membaca materi, mendiskusikan isi materi dan membahas tugas yang diberikan oleh guru. Itulah kaitan yang hilang saat proses pembelajaran di sekolah di pindah ke rumah. anak pasti akan membandingkan keterampilan dan kemampuan orang tuanya dengan guru di sekolah. Jelas pada point ini, guru pasti akan sangat kompeten.

Saat siswa belajar mandiri di rumah, mereka perlu orang tua yang “peduli” pada kegiatannya. Terlebih untuk anak yang bersekolah pada jenjang SD dan SMP. Mereka belum terbiasa belajar mandiri. Konsep homeschooling menjelaskan bahwa peranan utama yang menunjang keberhasilan anak belajar justru di tangan orang tua. Bagaimana dengan homescooling versi covid-19, disini orang tua belum siap menggantikan peran guru. Dan anak siap berlibur. So, mari kita mulai homeschooling versi covid-19 tetapi dengan konsep yang baik, yaitu melibatkan orang tua secara penuh saat anak belajar mandiri, adapun langkah awalnya adalah dengan membiasakan orangtua untuk menemani belajar anaknya. So, mari kita ajak para orangtua siswa untuk belajar bareng anak.

Daftar Rujukan

www.anakpanah.sch.id.

www.rumahbelajar.go.id

Bauman, K. (2002). Home schooling in the United States: Trends and characteristics. Education Policy Analysis Archives, 10, 26
Cibulka, J. (1991). State regulation of home schooling: A policy analysis. In J. van Galen & M. A. Pitman (Eds.), Home schooling: Political, historical, and pedagogical perspectives (pp. 101–119). Norwood, NJ: Ablex.
Isenberg, E. (2003b). Wisconsin case study. Home schooling: Household production and school choice. Unpublished doctoral dissertation, Washington University, St. Louis, MO
Houston, R., & Toma, E. (2003). Home schooling: An alternative school choice. Southern Economic Journal, 69, 920–935.
Rusman. (2012). Model-Model Pembelajaran. Depok: PT Rajagrafindo Persada.