PLAMPITAN, LPMP JATENG – Dalam gelar Diseminasi Pemetaan Mutu Pendidikan Propinsi Jawa Tengah Tahun 2018, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah memberikan banyak wejangan kepada para peserta. Wejangan disampaikan Gatot Bambang Hastowo di hadapan 117 pejabat dinas dan pengawas yang hadir. Gatot sangat mengapresiasi kegiatan Diseminasi Pemetaan Mutu Pendidikan karena kegiatan ini bisa dijadikan gerbang bagi masyarakat pendidikan dalam menghadapi era persaingan bebas.
Pada kesempatan tersebut kepala dinas pendidikan Provinsi Jateng ini menyampaikan hal-hal berikut:

  1. Pentingnya pemahaman tentang ketrampilan abad ke-21 oleh semua pelaku pendidikan baik di lingkungan internal maupun eksternal sekolah. Abad ke-21 menuntut manusia Indonesia untuk bekerja lebih giat berdasarkan konsep berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan pemecahan masalah secara kolaboratif. Ini menjadi tantangan dan tugas berat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam penyiapan SDM yang unggul dalam menghadapi persaingan abad 21.
  2. Pentingnya pemahaman tentang layanan percepatan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan berkualitas diawali dengan pola pikir melayani masyarakat pada umumnya dan peserta didik pada khususnya. Proses pembelajaran adalah interaksi timbal balik untuk saling menghormati, tanpa ada rasa ewuh pekewuh atau sungkan diantara pelaku pendidikan. Kualitas yang baik akan menghasilkan output maupun outcome yang baik. Hasil pendidikan diharapkan bukan hanya bersifat akademik namun keseluruhan kompetensi yang dimiliki siswa perlu dikembangkan secara maksimal. Ke depan, siswa kelas 11 harus sudah paham dengan dirinya, di masa mendatang akan menjadi apa, bekerja apa atau bekerja dimana.
  3. Revitalisasi pendidikan kejuruan merupakan hal yang penting. Pendidikan kejuruan yang dikelola  dengan baik akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan suatu Negara.  Contohnya adalah Jepang, Korea, Cina yang saat ini menjadi Pusat Layanan Keunggulan (Centre For Exellence). Pelaku pendidikan kejuruan harus merencanakan pengembangan keunggulan di wilayah masing-masing sehingga kelak Indonesia mampu menjadi Pusat Layanan Keunggulan (Centre For Exellence).

Sekolah-sekolah kejuruan di negara bagian Queensland sudah belajar merakit sekaligus troubleshooting mobil-mobil mewah yang tidak mungkin ditemi di jalanan di Indonesia seperti Ferrary, Proche, Lamborghini dan sebagainya. Hal ini menunjukkan siswa di sana telah dihadapkan pada kebutuhan pasar pada masa yang jauh ke depan. Dengan fenomena tersebut maka pentingnya kurikulum harus terus menerus dikembangkan dalam menjawab tantangan masa depan melalui pembelajaran berbasis High Order Thinking Skill (HOTS).
Pada kesempatan yang sama, Gatot Bambang Hastowo berharap SDM di Indonesia menghilangkan mindset “mental babu” yang sudah terlanjur melekat karena efek dari kolonialisme. Di samping itu, manusia Indonesia mau tidak mau harus bisa membaca tanda-tanda perubahan dunia. Di masa depan, akan terjadi perubahan-perubahan yang sifatnya masif dan cepat. Ada tiga hal yang digambarkan oleh Kepala Dinas Provinsi Jawa Tengah:

  1. Era Otomasi. Di era ini terjadi penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin. Semua dilakukan secara otomatis sehingga tidak diperlukan lagi pengawasan manusia. Dicontohkan dalam layanan jalan TOL di Australia, hanya dibutuhkan chip yang diletakkan pada body mobil yang secara otomatis akan mencatat keluar dan masuknya mobil tersebut ke jalan TOL tersebut. Di Indonesia, layanan ojek dan taksi on line juga merupakan bagian dari otomasi. Survey dari World Bank menyatakan di tahun 2025, 35% hingga 40% pekerjaan manual akan hilang dan digantikan oleh sistem otomasi.
  2. Mobilisasi tenaga kerja di kawasan Asia pada tahun 2025 menuntut kesiapan peserta didik Indonesia yang mampu berkolaborasi, berinteraksi dan berkomunikasi secara internasional. Oleh karena itu penting bagi siswa Indonesia untuk belajar bahasa asing. Disamping masalah bahasa, kurikulum nasional juga harus mampu menyiapkan siswanya untuk mendapatkan “pekerjaan masa depan”, yaitu pekerjaan yang saat ini belum ada, namun dimungkinkan akan muncul di masa mendatang.
  3. Pentingnya penyiapan infrastruktur yang baik dalam upaya memberikan layanan yang unggul di berbagai bidang diantaranya bidang pendidikan, bidang kesehatan dan bidang kesejahteraan.

Di akhir sambutannya Gatot berharap kegiatan Diseminasi Pemetaan Mutu Pendidikan dapat menjadi tonggak kokoh bagi permulaan yang baik dalam menghadapi tantangan masa depan. Melalui kegiatan tersebut akan dibahas tentang 8 SNP yang selama menjadi acuan mutu bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Apakah 8 SNP tersebut bisa menjawab tantangan masa depan atau tidak perlu menjadi pemikiran bersama semua pihak.
Kegiatan Diseminasi Pemetaan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018 diselenggarakan oleh LPMP Jawa Tengah selama tiga hari (13 s.d 15 Des 2018) bertempat di Hotel Quest Semarang.  Diseminasi dihadiri oleh  117 orang terdiri dari  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Kabid SMA dan SMK Dinas Provinsi, dan Koordinator Pengawas Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dari 35 Kab/Kota.
Narasumber kegiatan ini terdiri atas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah, Kepala LPMP Jawa Tengah,  Walikota Salatiga, Kepala Dinas Pendidikan Kab.Sukoharjo, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal, dan Wydiaiswara LPMP Jawa Tengah. Adapun tujuan kegiatan diseminasi, , sebagaimana disampaikan oleh Sri Widarti, Kepala Bidang Pemetaan dan Supervisi Mutu Pendidikan, adalah, mensosialisasikan Peta Mutu Pendidikan Propinsi Jawa Tengah, menyajikan praktik  baik pelaksanaan  pemenuhan dan peningkatan mutu pendidikan berbasis data mutu, dan menyajikan praktik baik pengumpulan data mutu. (WID)