BELAJAR ICT DARI COVID-19

Oleh : Dr. Alif Noor Hidayati, M.Pd.

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

 
 
 

Tahun 2019 dunia dihentakkan dengan munculnya wabah yang ganas, yaitu corona virus 19 (Covid-19). Diperkirakan pertama kali berkembang dari pasar hewan di Wuhan , China. Selanjutnya virus ini begitu cepat menyebar dan menginveksi  ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Keganasan virus ini bisa dilihat dari tingginya kasus meninggal bagi yang terpapar. Setidaknya sampai hari ini, 8 mei 2020 dilaporkan di seluruh dunia sejumlah 3.845.607  kasus terpapar, meninggal 269.564347 dan sembuh  1.282.930  (https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries) sedangkan di Indonesia terkonfirmasi sejumlah 12.776 terinfeksi, meninggal 930 dan sembuh 2.381 (Sumber: www.covid19.go.id). Keganasan virus ini menyebabkan WHO dan juga pemerintah Indonesia menerapkan social distancing dan physical distancing. Berjaga jarak sosial dan fisik. Hal ini menyebabkan munculnya kebijakan baru sebagai bentuk pencegahan dan penanggulangannya seperti UN ditiadakan, sekolah membelajarkan siswanya dari rumah, pegawai dan karyawan bekerja dari rumah, banyak jalur transportasi ditutup. Dampak dari kebijakan tersebut dirasakan dalam berbagai sector seperti pariwisata yang merosot drastis, banyaknya karyawan dirumahkan, naiknya angka pengangguran, meningkatnya kriminalitas dan banyak dampak negatif lainnya.

Pada masa pandemic covid-19 ini diprediksikan ada sektor yang terpuruk, tetapi sekaligus ada sektor yang bertahan bahkan memungkinkan untuk meningkat pesat (Dcode EFC Analysis, 2020).  sektor-sektor yang dimungkinkan terpuruk adalah pariwisata dan rekreasi, penerbangan dan kemaritiman, otomotif, konstruksi dan real estate, manufaktur yang tidak esensial, layanan finansial, pendidikan, perminyakan dan gas. Sedangkan sector yang diproyeksikan meningkat adalah pertanian, perdagangan elektronik, ICT, kesehatan, pengolahan pangan dan retail, layanan dan suplay kesehatan.

Pemanfaatan ICT akan meningkat tajam seiring kebijakan untuk memberikan layanan work from home, bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Ini akan meningkatkan kegairahan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi secara modern milenial. Meski di awal terasa berat namun ‘keterpaksaan” yang timbul dari peristiwa ini  punya makna positif baik dari sisi semangat belajar untuk mengoperasionalkan atau semangat memperoleh benefitnya yang fantastis.

Pada tulisan ini , penulis akan menyampaikan tiga hal yang bisa menjadi bahan belajar dari covid 19 dalam dua sessi unggahan. Pertama berkembangnya secara pesat pengggunaan Information, communication techology (ICT), kedua menguatnya pendidikan dalam keluarga, ketiga open mind bahwa kita harus hidup bersih, sehat dan pentingnya berbagi .

Seiring dengan program belajar dan bekerja dari rumah, mengkondisikan kita lebih familier dengan ICT berbasis dalam jaringan (daring) . Moda yang begitu efektif melintasi batas ruang, waktu dan jarak. Kemampuan multi lintas ini membuat pekerjaan yang sebelumnya tidak mungkin untuk dilakukan menjadi sangat mungkin , bahkan jauh memudahkan.

Pada era milenial ini hampir di semua sektor kehidupan telah memanfaatkan ICT. Dalam lima tahun terakhir bermunculan dan berkembang dengan sangat cepat berbagai aplikasi dan layanan dalam jaringan  (daring). Aplikasi ICT berkembang seiring dengan tumbuhnya kebutuhan manusia atas layanan yang cepat, akurat dan memuaskan. Kebutuhan ini ditangkap oleh pebisnis untuk mengembangkannya. Di bidang perdagangan siapa tak mengenal shopee, lazada, buka lapak, zalora, detik.fashion dan lainnya. Dalam bidang akomodasi transportasi pasti tak asing dengan aplikasi traveloka, u-tiket, wego,  tiket.com, KAI access, grab, gojek, dengan berbagai fiturnya yang terus diupdate. Dalam bidang pendidikan ada ruang guru, ruang belajar ada berbagai layanan seminar dalam jaringan yang sangat beragam kontennya.

Sekarang, belajar dari rumah pasti akan sangat memerlukan ICT dan belajar melalui jaringan.  akan semakin semarak dengan makin intensnya pemanfaatan aplikasi meeting dan manajemen kelas secara on line seperti zoom meeting, google meeting, google class room, google jamboard, Microsoft teams, kahoot dan lainnya.

Pendidik harus mau dan mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut bila tak ingin ketinggalan atau bahkan kehiangan peluangnya. Tanpa kemampuan tersebut mustahil kiranya pendidik dapat berinteraksi intens dengan siswanya untuk tetap menghadirkan KBM bagi siswanya.

Beragam platform bisa digunakan untuk belajar secara daring. Untuk konten tersedia nearpod, smart, pear deck, class craft, brain pop, quizlet. Bila memerlukan proses diskusi, ada flipgrid, padlet, todaysmeet, recoo, GoSoapBox. Untuk system yang memerlukan respon dari siswa (baca penilaian), bisa digunakan quizizz( pilihan ganda),  Peardeck (pilihan ganda, gambar, jawaban pendek), socrative, kahoot (pilihan ganda), formative.

Pada pembelajaran daring, metode interaksi bisa dalam bentuk seorang diri, interaksi orang ke orang, interaksi dari satu orang ke banyak orang, atau interaksi dari banyak orang ke banyak orang lainnya. Untuk interaksi seorang diri atau komunikasi searah (contoh : www) penyajian bisa berupa halaman web dengan mengakomidir grafik , audio, video, kuis, ceking interaktif. Pada interaksi orang ke orang (contoh email), interaksi antara guru dan pembelajar berupa email, chat, jurnal harian,tutorial dengan penugasan. Interaksi antara pembelajar dengan pembelajar berupa email, chat (baik sosial maupun akademik).  Sementara itu interaksi seorang kepada banyak orang (seperti papan pengumuman), untuk hubungan guru dan pembelajar bisa dalam bentuk e-mail, mailing list, group chat, papan diskusi. Sedangkan komunikasi antara pembelajar dengan pembelajar lainnya dalam bentuk grup chatting, papan diskusi, grup projek, evaluasi berbasis teman sejawat. Interaksi dari banyak orang ke banyak orang lain ( seperti konferensi) antara guru dengan pembelajar berupa grup chatting, dan papan diskusi.

Jagat maya menjadi tumpuan harapan  untuk tetap berlangsungnya interaksi antar manusia, dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara berbeda, dari satu benua ke benua lain. Pendek kata, sebuah makhluk yang berukuran nano, yang strukturnya tidak lebih kompleks dari sebutir protein mampu membuat semuanya berubah. Si covid-19 membuat kita belajar seketika, mau tak mau, suka tidak suka , belajar dengan cara yang berbeda.  Belajar apa saja melalui ICT, berupa daring. Covid-19 mengajari kita bersegera merespon abad milenial. Abad ICT. Terima kasih Covid-19.

Share This Article

BELAJAR ICT DARI COVID-19

Oleh : Dr. Alif Noor Hidayati, M.Pd.

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

 
 
 

Tahun 2019 dunia dihentakkan dengan munculnya wabah yang ganas, yaitu corona virus 19 (Covid-19). Diperkirakan pertama kali berkembang dari pasar hewan di Wuhan , China. Selanjutnya virus ini begitu cepat menyebar dan menginveksi  ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Keganasan virus ini bisa dilihat dari tingginya kasus meninggal bagi yang terpapar. Setidaknya sampai hari ini, 8 mei 2020 dilaporkan di seluruh dunia sejumlah 3.845.607  kasus terpapar, meninggal 269.564347 dan sembuh  1.282.930  (https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries) sedangkan di Indonesia terkonfirmasi sejumlah 12.776 terinfeksi, meninggal 930 dan sembuh 2.381 (Sumber: www.covid19.go.id). Keganasan virus ini menyebabkan WHO dan juga pemerintah Indonesia menerapkan social distancing dan physical distancing. Berjaga jarak sosial dan fisik. Hal ini menyebabkan munculnya kebijakan baru sebagai bentuk pencegahan dan penanggulangannya seperti UN ditiadakan, sekolah membelajarkan siswanya dari rumah, pegawai dan karyawan bekerja dari rumah, banyak jalur transportasi ditutup. Dampak dari kebijakan tersebut dirasakan dalam berbagai sector seperti pariwisata yang merosot drastis, banyaknya karyawan dirumahkan, naiknya angka pengangguran, meningkatnya kriminalitas dan banyak dampak negatif lainnya.

Pada masa pandemic covid-19 ini diprediksikan ada sektor yang terpuruk, tetapi sekaligus ada sektor yang bertahan bahkan memungkinkan untuk meningkat pesat (Dcode EFC Analysis, 2020).  sektor-sektor yang dimungkinkan terpuruk adalah pariwisata dan rekreasi, penerbangan dan kemaritiman, otomotif, konstruksi dan real estate, manufaktur yang tidak esensial, layanan finansial, pendidikan, perminyakan dan gas. Sedangkan sector yang diproyeksikan meningkat adalah pertanian, perdagangan elektronik, ICT, kesehatan, pengolahan pangan dan retail, layanan dan suplay kesehatan.

Pemanfaatan ICT akan meningkat tajam seiring kebijakan untuk memberikan layanan work from home, bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Ini akan meningkatkan kegairahan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi secara modern milenial. Meski di awal terasa berat namun ‘keterpaksaan” yang timbul dari peristiwa ini  punya makna positif baik dari sisi semangat belajar untuk mengoperasionalkan atau semangat memperoleh benefitnya yang fantastis.

Pada tulisan ini , penulis akan menyampaikan tiga hal yang bisa menjadi bahan belajar dari covid 19 dalam dua sessi unggahan. Pertama berkembangnya secara pesat pengggunaan Information, communication techology (ICT), kedua menguatnya pendidikan dalam keluarga, ketiga open mind bahwa kita harus hidup bersih, sehat dan pentingnya berbagi .

Seiring dengan program belajar dan bekerja dari rumah, mengkondisikan kita lebih familier dengan ICT berbasis dalam jaringan (daring) . Moda yang begitu efektif melintasi batas ruang, waktu dan jarak. Kemampuan multi lintas ini membuat pekerjaan yang sebelumnya tidak mungkin untuk dilakukan menjadi sangat mungkin , bahkan jauh memudahkan.

Pada era milenial ini hampir di semua sektor kehidupan telah memanfaatkan ICT. Dalam lima tahun terakhir bermunculan dan berkembang dengan sangat cepat berbagai aplikasi dan layanan dalam jaringan  (daring). Aplikasi ICT berkembang seiring dengan tumbuhnya kebutuhan manusia atas layanan yang cepat, akurat dan memuaskan. Kebutuhan ini ditangkap oleh pebisnis untuk mengembangkannya. Di bidang perdagangan siapa tak mengenal shopee, lazada, buka lapak, zalora, detik.fashion dan lainnya. Dalam bidang akomodasi transportasi pasti tak asing dengan aplikasi traveloka, u-tiket, wego,  tiket.com, KAI access, grab, gojek, dengan berbagai fiturnya yang terus diupdate. Dalam bidang pendidikan ada ruang guru, ruang belajar ada berbagai layanan seminar dalam jaringan yang sangat beragam kontennya.

Sekarang, belajar dari rumah pasti akan sangat memerlukan ICT dan belajar melalui jaringan.  akan semakin semarak dengan makin intensnya pemanfaatan aplikasi meeting dan manajemen kelas secara on line seperti zoom meeting, google meeting, google class room, google jamboard, Microsoft teams, kahoot dan lainnya.

Pendidik harus mau dan mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut bila tak ingin ketinggalan atau bahkan kehiangan peluangnya. Tanpa kemampuan tersebut mustahil kiranya pendidik dapat berinteraksi intens dengan siswanya untuk tetap menghadirkan KBM bagi siswanya.

Beragam platform bisa digunakan untuk belajar secara daring. Untuk konten tersedia nearpod, smart, pear deck, class craft, brain pop, quizlet. Bila memerlukan proses diskusi, ada flipgrid, padlet, todaysmeet, recoo, GoSoapBox. Untuk system yang memerlukan respon dari siswa (baca penilaian), bisa digunakan quizizz( pilihan ganda),  Peardeck (pilihan ganda, gambar, jawaban pendek), socrative, kahoot (pilihan ganda), formative.

Pada pembelajaran daring, metode interaksi bisa dalam bentuk seorang diri, interaksi orang ke orang, interaksi dari satu orang ke banyak orang, atau interaksi dari banyak orang ke banyak orang lainnya. Untuk interaksi seorang diri atau komunikasi searah (contoh : www) penyajian bisa berupa halaman web dengan mengakomidir grafik , audio, video, kuis, ceking interaktif. Pada interaksi orang ke orang (contoh email), interaksi antara guru dan pembelajar berupa email, chat, jurnal harian,tutorial dengan penugasan. Interaksi antara pembelajar dengan pembelajar berupa email, chat (baik sosial maupun akademik).  Sementara itu interaksi seorang kepada banyak orang (seperti papan pengumuman), untuk hubungan guru dan pembelajar bisa dalam bentuk e-mail, mailing list, group chat, papan diskusi. Sedangkan komunikasi antara pembelajar dengan pembelajar lainnya dalam bentuk grup chatting, papan diskusi, grup projek, evaluasi berbasis teman sejawat. Interaksi dari banyak orang ke banyak orang lain ( seperti konferensi) antara guru dengan pembelajar berupa grup chatting, dan papan diskusi.

Jagat maya menjadi tumpuan harapan  untuk tetap berlangsungnya interaksi antar manusia, dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara berbeda, dari satu benua ke benua lain. Pendek kata, sebuah makhluk yang berukuran nano, yang strukturnya tidak lebih kompleks dari sebutir protein mampu membuat semuanya berubah. Si covid-19 membuat kita belajar seketika, mau tak mau, suka tidak suka , belajar dengan cara yang berbeda.  Belajar apa saja melalui ICT, berupa daring. Covid-19 mengajari kita bersegera merespon abad milenial. Abad ICT. Terima kasih Covid-19.

Share This Article

Go to Top