Oleh : Agung Probo Sasmito,S.Pd

 
Sebatas apa…
Kesetiaanmu kawan
Yang senantiasa kau gaungkan
Disetiap pagi dan petang
 
Karena hanya keluh yang kau gumamkan
Ketika khabar dari seberang berhamburan
Di televisi, medsos, dan majalah bulanan
Tingkah polah raja – raja zaman
Ancaman invasi dan embargo yang memuakkan
Dunia menyempit dan nampak tua
 
Meski tanah ini setia memanggil
Mengerdipkan isyarat direlung hatimu yang senyap
Tentang negeri yang terpenjara
Fir’aun – fir’aun yang bangkit menjelma
Memenuhi semua catatan dan gelap cakrawala
Sedang tubuh – tubuh angkuhmu…
Masih terlelap pada musim dan cuaca
 
Sebatas apa…
Pengorbananmu kawan
Yang menggugus sepi
Di sepanjang urat perjalanan
 
Karena kau masih saja diam
Ketika dedaunan kering berguguran
Ketika serpih keangkuhan bertumbangan
Mimpi – mimpi liar itu berjatuhan
Sedang pucuk – pucuk lungit ditanganmu
Menjelma ribuan buih yang bertebaran
 
Masihkah kau diam?
Ketika beribu isyarat menampak gelombang
Pada negeri yang tertatih ditinggal zaman
Merupa burung – burung yang terusir
Seperti mimpi – mimpi gelap yang seolah tak berakhir
Tanah ini telah basah air mata
 
Maka segeralah bergegas
Pada janji yang harus segera terlunas
Pada catatan sejarah yang menghantuimu
Ribuan mimpi dipundakmu
Juga tanah – tanah yang memanggil
Tuk nyalakan ribuan asa yang ditiupkan
Tonggak – tonggak peradaban yang ditegakkan
 
Ada yang setia menunggu.…
Asa, mimpi, dan ikrarmu
Tuk melukisi langit cakrawala
Pada negeri yang sedang terluka

(Pancur, 23 Agustus 2020)

 

juara 3 lomba cipta puisi kategori tendik

dalam rangka memperingati HUT RI ke-75