Oleh : Ratna Juita, S.Psi.

 

Di masa pandemi ini, semua pembelajaran dilakukan secara daring. Guru harus mencari sumber belajar yang relevan dengan mata pelajaran yang akan disampaikan. Beberapa sumber belajar yang telah disediakan oleh kementerian Pendidikan dan kebudayaan antara lain Rumah Belajar, M-Edukasi, TV Edukasi dan radio edukasi. Namun guru juga harus mempunyai kemampuan untuk membuat bahan tayang pembelajaran. Bahan tayang merupakan media yang penting terutama dalam pembelajaran daring karena di masa pandemi ini interaksi guru dan siswa menjadi terbatas. Seringkali bahan tayang seperti slide power point berisi informasi atau materi yang terlalu banyak sehingga sulit bagi siswa untuk “mencerna” dan memahami.  Bahan tayang untuk pembelajaran tentunya berbeda dengan bahan tayang yang ditujukan untuk promosi, sosialisasi, atau hiburan. Bahan tayang untuk tujuan pembelajaran harus mempunyai prinsip-prinsip tertentu agar materi dapat diterima dengan optimal oleh siswa didik.  Dalam membuat bahan tayang yang baik harus memperhatikan bagaimana kognitif bekerja selama pembelajaran. bahan tayang juga harus berfokus dan berorientasi kepada siswa, baik kemampuan maupun kebutuhannya.

Richard Mayer (Clark, 2002) telah melakukan serangkaian penelitian untuk mengetahui jenis multimedia dan bagaimana penggunaannya untuk daapat mengoptimalkan proses dan hasil belajar. Dari penelitian tersebut didapatkan  6 prinsip yang perlu diterapkan dalam membuat bahan tayang untuk pmebelajaran. Berikut rangkuman dari ke enam prinsip tersebut :

  1. Prinsip Multimedia

Bahan tayang berupa teks akan semakin efektif jika ditambahkan media grafis. Media grafis dapat berupa gambar, foto, charts, bagan atau animasi. Dengan kecanggihan teknologi saat ini guru dapat dengan mudah mengakses dan menggunakan media grafis di beberapa website yang open source seperti : icons8.com atau freepik.com. tentunya kita harus mencantumkan sumber media grafis tersebut sebagai bentuk pengakuan dan apresiasi atas karya orang lain.

Media grafis yang dipakai tentunya harus relevan dan sesuai dengan materi pelajaran. Media grafis yang berlebihan dan hanya bersifat pemanis atau memberi efek dramatis justru dapat mengurangi keefektifitasan proses pembelajaran.

Secara psikologi,  belajar akan terjadi dengan dikodekannya informasi baru di memori jangka panjang. Berdasarkan teori “Dual Encoding” konten yang disajikan dengan teks dan grafis akan mengirimkan dua jenis kode yaitu kode verbal dan kode visual. Dengan begitu akan terjadi dua proses pengkodean informasi sehingga hasil belajar lebih optimal.

Dalam pengaplikasiannya kita harus memperhatikan jenis materi yang akan disampaikan, apakah fakta, konsep, proses, prosedur atau prinsip. Contohnya jika materi yang disampaikan adalah sebuah proses maka grafis yang cocok digunakan adalah gambar diam seperti anak panah yang menunjukkan proses perubahan yang terjadi.

Berikut adalah panduan jenis materi dan grafis yang dapat mendukung :

Tabel 1. Panduan jenis materi dan grafis pendukung

  1. Prinsip Contiguity

Prinsip Contiguity menyatakan bahwa penempatan teks di dekat grafis akan meningkatkan proses pembelajaran.  Teks dan grafis harus menjadi bagian kesatuan yang tidak terpisah. Hal ini wajib diperhatikan terutama untuk penulisan e-modul yang terkadang grafis dan teks terpisah halaman. Berdasarkan penelitian, penempatan grafis dan teks yang sesuai akan meningkatkan peningkatan hasil belajar sebesar 68%.

Berdasarkan teori psikologi, working memory hanya dapat menerima tujuh (plus atau minus dua) fakta atau item dalam satu waktu. Prinsip ini dikenal sebagai “seven plus or minus two”. Working memory berperan penting dalam proses pembelajaran. Jika working memory melebihi kapasistas maka hasil belajar tidak akan maksimal. Jika teks dan grafis disajikan terpisah maka kognitif siswa harus bekerja ektra untuk mengintegrasikan teks dan grafis tersebut.

Sumber gambar : https://idschool.net/sma/apa-itu-metabolisme/
Gambar 1 : contoh peletakkan teks dan grafis sesuai prinsip contiguity

  1. Prinsip Modalitas

Yaitu grafis yang juga dijelaskan dengan audio akan meningkatkan hasil belajar. Narasi yang diaudiokan akan membantu siswa untuk lebih mudah mencerna materi baru atau materi yang sifatnya komplek. Penelitian menunjukkan bahwa grafis yang dijelaskan dengan narasi audio dapat meningkatkan hasil belajar sebesar 80% dibanding jika hanya disajikan dengan narasi teks.

Working memory memiliki dua area penyimpanan,  yaitu area informasi visual dan area informasi phonetik. Salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas memori adalah dengan mengaktifkan kedua area penyimpanan.

Narasi yang diaudiokan akan sangat efektif diaplikasikan pada tayangan yang berisi konten tutorial, demonstrasi atau prosedur yang mengharuskan siswa berfokus pada informasi visual. Penambahan teks yang bersifat deskriptif pada video animasi dengan kandungan materi kompleks akan mengganggu proses belajar. Jika siswa harus membaca teks dan juga melihat animasi maka kerja kognitif akan melebihi kapasitas. Pada video animasi dengan kandungan materi kompleks cukup tambahkan teks yang penting saja.

Gambar 2. Proses penerimaan informasi “dual encoding” melalui multimedia

  1. Prinsip Redudancy

Grafis yang dijelaskan dengan audio dan teks yang berlebihan dapat mengganggu proses pembelajaran. Beberapa bahan tayang menyajikan penjelasan dalam bentuk teks dan audio yang menarasikan teks tersebut. Format bahan tayang seperti itu tampak bagus dan lengkap. Namun berdasarkan hasil penelitian, justru hasil belajar siswa mengalami penurunan jika grafis dijelaskan dengan dua format audio dan juga teks.

Grafis akan diterima dengan baik oleh siswa jika hanya dijelaskan dengan format audio dibandingkan jika dijelaskan dengan audio dan juga teks. Jika siswa harus membaca teks dan juga melihat animasi maka fungsi kognitif akan melebihi kapasitas. Sangat disarankan untuk tidak menggunakan teks deskripsi pada bahan tayang yang berisi ilustrasi visual. Jika tidak ada grafis di bahan tayang maka kombinasi teks deskripsi dan audio akan bermanfaat.

Gambar 3. Proses penerimaan informasi dari beberapa multimedia yang membuat working memory kelebihan kapasitas

  1. Prinsip Koheren

Prinsip ini menyatakan bawah penggunaan grafis, teks dan audio yang tidak relevan dan belerbihan akan mengganggu proses belajar. Karakter film, musik, atau animasi yang tidak relevan terkadang ditambahkan untuk menarik perhatian siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mendapatpan materi tanpa ditambahkan elemen-elemen yang tidak relevan mempunyai hasil belajar yang lebih optimal. Elemen yang tidak relevan akan menjadi faktor pengalih perhatian siswa. Sesuai dengan teori belajar bahwa informasi baru akan diintegrasikan ke pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Elemen yang tidak relevan akan memicu munculnya pengetahuan lama yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Guru sebagai perancang bahan tayang diharapkan dapat membedakan tujuan bahan tayang apakah untuk pembelajaran atau untuk hiburan. Bahan tayang harus dapat memancing rasa ingin tahu secara kognitif, bukan rasa ingin tahu yang sifatnya emosional.

  1. Prinsip Personalisasi

Prinsip personalisasi menyatakan bahwa bahan tayang harus dapat menciptakan hubungan kedekatan dengan siswa. Salah satu metode untuk menciptakan hubungan kedekatan ini adalah dengan menggunakan gaya komunikasi percakapan dua arah. Menambahkan karakter yang berperan sebagai penyampai materi juga dapat membantu menciptakan kedekatan dengan siswa.  Tokoh yang ditampilkan dapat berupa animasi atau tokoh nyata. Materi yang disampaikan tokoh karakter melalui audio deksripsi akan lebih efektif  dibandingkan jika dalam bentuk teks. Tokoh karakter tidak harus selalu terlihat di bahan tayang, cukup suaranya saja. Mempersonalisasikan bahan tayang akan membuat  proses pembelajaran lebih bermakna.

Gambar 4 : contoh penggunaan karakter dan gaya percakapan di bahan tayang

Kini kita telah mengetahui dan memahami keenam prinsip pembuatan bahan tayang untuk pembelajaran. Mari Bapak Ibu Guru kita bersama merancang media pembelajaran yang baik sehingga haisl belajar anak didik kita lebih optimal. Selamat membelajari, salam semangat!

 
 

Sumber Referensi :

Clark, B. R. (2002). Six Principles of Effective e-Learning: What Works and Why. E-Magazine, 2, 10.